“Posisi survivor (Warsito, Red) hanya sekitar 10 meter dari tenda SRU 16 yang didirikan di Pos 2, Paseban Labuhan Dalem,” ungkap Khoirul usai mengevakuasi Warsito, Minggu (25/2) malam.

Ketika itu, lanjut Khoirul, Warsito sedang tertidur di pinggir jalan setapak jalur pendakian Kinahrejo, Cangkringan. “Tempat itu padahal sudah disisir oleh tim, tapi Warsito tidak ada di situ,” katanya.

Ketika menyisir jalur tersebut, tim SRU 16 semula mengira pria yang tertidur di jalan setapak adalah anggota SRU 10. Namun saat didekati dan ditanya-tanya, ternyata sosok pria 33 tahun itulah target yang dicari tim SRU.

Khoirul mengakui kondisi fisik Warsito tergolong luar biasa bagi seorang non-pecinta alam. Tak punya keahlian ilmu survival, Warsito mampu bertahan di hutan Merapi selama tiga hari tiga malam. Tanpa bekal makanan maupun minuman sedikit pun. Selain baju dan jaket yang melekat di tubuh, Warsito hanya membawa sebungkus rokok dan handphone. Dia tersesat dan berjalan ke arah kawan Merapi tanpa alas kaki. Hal mustahil. Pendaki gunung, kata Khoirul, setidaknya harus melengkapi diri dengan peralatan standar keamanan dan bekal makanan yang cukup, perlengkapan survival, logistik, sepatu, baju ganti, dan sleeping bag.

Apalagi kondisi di atas pos 3 Merapi berupa lahan terbuka. Kecepatan angin di kawasan itu bertiup sangat kencang. Kondisi alam bisa semakin buruk saat turun hujan.

Kadar oksigen pada ketinggian tersebut juga sangat minim. Suhu udara saat malam bisa mencapai 5-10 derajat Celsius. Tanpa perbekalan dan kemampuan yang memadai susah bagi seorang wisatawan biasa bisa bertahan. Namun itulah faktanya. Warsito ditemukan selamat, meski dalam keadaan lemas.

“Kalau dia wisatawan, untuk pendakian harusnya hanya sampai Srimanganti. Tapi dia bisa sampai kawah Merapi. Bahkan sempat tidur di situ,” ungkap Khoirul menyitir pernyataan Warsito.

Warsito ditemukan sekitar pukul 13.17. Saat itu dia masih bisa diajak bicara, meski suaranya sangat pelan. Dibantu oksigen, Warsito kemudian ditandu turun ke posko pencarian di Kinahrejo. Tim evakuasi sampai di posko sekitar pukul 19.17.

Ardian Ezzy Irsyada, 20, anggota SRU lainnya, juga sempat berbincang dengan Warsito saat masih berada di Pos Paseban Labuhan Dalem. Senada dengan Khoirul, Ardian mengaku heran dengan pengalaman Warsito mendaki gunung paling aktif di Pulau Jawa itu. Salah satunya, penuturan Warsito yang sengaja menginap di puncak Merapi untuk menghindari hujan. Warsito sampai puncak sekitar pukul 16.00, Kamis (22/2). Atau sekitar enam jam setelah dilaporkan hilang oleh istrinya, Dwi Indri Astuti, pada pukul 10.00 di hari yang sama.

“Katanya setelah itu mau turun, tapi hujan. Akhirnya dia naik lagi. Warsito pilih tidur di puncak karena hangat,” tutur Ardian berdasarkan cerita Warsito.

Lalu, setelah semalam menginap di puncak Merapi Warsito sempat turun gunung. Namun dia tersesat saat mencari jalan pulang. Demikian pula sehari berikutnya lagi, Sabtu (24/2). Karena tersesat lagi, Warsito memutuskan menginap di dekat Pos Paseban, namun saat itu tak ada orang. Baru pada Minggu (25/2) pagi dia jalan lagi dan menemukan jalan setapak. “Selama itu Warsito hanya makan bunga dan minum air hujan,” ungkap Ardian.

Vegetasi Merapi memang kaya bunga dan daun-daunan. Makan bunga tergolong brilian bagi seseorang tanpa pengalaman survival.

Radar Jogja sempat menemui Warsito dan istrinya di RS Panti Nugroho, Pakem. Saat itu Warsito belum bisa diwawancara. Istrinya yang lantas menjadi juru bicara. Semua yang diceritakan Dwi Indri berdasar penuturan Warsito persis dengan yang disampaikan Khoirul maupun Ardian.

Mulai perjalanan ke puncak, menginap di kawah, makan bunga hingga tersesat cari jalan pulang. “Hari itu (Minggu, 25/2, Red) saya sudah ada firasat kalau suami saya akan ketemu. Langitnya cerah dan puncak Merapi terlihat jelas,” kata Dwi Indri.

Keyakinan itu menguat setelah pada Sabtu (24/2) malam dia menggelar mujahadah bersama Juru Kunci Merapi Mas Bekel Anom Suraksosihono. Demikian pula keluarganya di Kalasan dan keluarga Warsito di Banjarnegara. Mereka berkirim doa kepada Tuhan untuk memohon keselamatan Warsito.

Firasat Dwi Indri pun terwujud. Warsito ditemukan selamat pada Minggu 925/2) siang. “Ke depan kami akan memperbaiki kualitas hidup dengan meningkatkan ibadah,” tutur Dwi Indri. (yog/mg1)