GUNUNGKIDUL – Puskesmas I Playen dipenuhi pasien dengan keluhan gejala keracunan makanan kemarin. Mereka mengaku mual, pusing dan panas dingin usai mengonsumi makanan acara hajatan.

Ada tujuh pasien menjalani perawatan medis. Mereka merupakan warga Desa Ngawu, dan Desa Getas, Kecamatan Playen, Gunungkidul.

Ketujuh orang tersebut, Siti Wahidatun, 37; Khamdani, 37; Setyo Budi Wibowo, 27; Subhan Khoirul Anwar,14; Maratu Sholekah, 29, warga Padukuhan Tumpak, Desa Ngawu. Korban lain, Tuji, 56; dan Jumarti, 50, warga Padukuhan Getas, Desa Getas. Mereka masih punya hubungan saudara.

Kejadian berawal pada Rabu (21/2) para korban menerima kiriman makanan dari acara hajatan pernikahan kerabat dari Imogiri, Bantul. Hidangan terdiri dari ayam, bihun, dan nasi.

“Tidak yang aneh saat dikonsumsi. Saya makan dua kali, siang dan malam,” kata korban Jumarti, saat ditemui di puskesmas Kamis (22/2).

Kata Jumarti, sebenarnya keluhan dengan indikasi keracunan terasa sejak malam. Oleh suaminya kemudian diberi obat dari bidan setempat namun kondisi kesehatan belum membaik.

Tuji, suami Jumarti, juga makan dengan menu sama. Tetapi Tuji tidak mengeluhkan sakit parah. “Sedikit pusing tapi tidak apa-apa, masih sehat,” kata Tuji.

Kepala Puskesmas Playen I, Jolanda Barahama mengatakan tujuh pasien dalam satu keluarga masih menjalani perawatan. “Gejala yang dialami oleh ketujuh orang tersebut menyerupai gejala keracunan makanan. Antara lain mual, muntah, dan demam,” kata Jolanda.

Selanjutnya petugas mengambil sampel makanan yang dikonsumsi maupun sampel muntahan korban. Sampel dikirim ke Balai Laboratorium Kesehatan Jogjakarta untuk diteliti.

“Kami masih menduga (keracunan). Hasilnya menunggsu hasil uji laboratorium. Dugaan sementara mereka terkena infeksi bakteri,” ungkap Jolanda.

Semua pasien menjalani perawatan intensif. Kondisi mereka terus dipantau sehingga dapat kembali pulih seperti sediakala.

Jika infeksi bakteri, maka masa inkubasi (proses memelihara kultur mikroba dalam suhu tertentu selama jangka waktu tertentu untuk memantau pertumbuhan bakteri) selama 24 jam.

“Sekarang sebagian besar kondisi pasien sudah mulai membaik,” ungkapnya. (gun/iwa/mg1)