KULONPROGO – Sejumlah petani di Kulonprogo mengembangkan padi Black Madrass asal Korea. Benih padi berwarna hitam ini didapatkan dari seorang mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Desa Tonobakal, Desa Hargomulyo, Kecamatan Kokap.

“Saya menanam padi Black Madrass ini di sawah seluas 1.500 meter persegi. Disandingkan dengan padi Ciherang. Saya mendapatkan benih padi ini dari saudara di Desa Tonobakal,” kata salah seorang petani Rantun, 54 warga Desa Sogan, Kecamatan Wates, Kamis (22/2).

Padi Black Madrass mulai banyak ditanam di persawahan Bulak Kawirejan, Sogan. Sebagian bulir padi sudah terisi dan warnanya mulai kecoklatan. Jika berhasil, dua atau tiga pekan ke depan masuk masa panen.

“Tidak ada perlakuan istimewa, sama dengan Ciherang atau IR64. Penanaman, pemupukan dan pasokan airnya sama. Kelebihannya, Black Madrass lebih tahan hama, pertumbuhannya lebih cepat, namun produksinya kalah dibanding Ciherang atau IR64,” kata Rantun.

Dinas terkait sempat meminta petani tidak melanjutkan budidaya padi tersebut, sebab belum masuk Balai Karantina. “Kalau dilihat batangnya lebih kecil dibanding padi biasa. Tetapi lebih cepat tumbuh dan berbuah,” kata Rantun.

Padi asal Korea tersebut juga dikembangkan petani di Pandowan, Kecamatan Galur. Caranya sama, ditanam satu petak berdampingan dengan padi lain.

Black Madrass merupakan padi jenis purple rice. Memiliki daun dan batang berwarna ungu tua. Padi ini tidak memiliki izin edar dari Balai Pengawas dan Sertifikasi Benih. Umur produksi padi ini kurang dari 90 hari.

Anggota Komisi II DPRD Kulonprogo Muhtarom Asrori mengatakan pihaknya pernah melakukan inspeksi ke Bulak Hargorejo awal Januari 2018.

“Petani bilang padi sempat dicabut Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo. Alasannya belum memiliki sertifikat dan izin edar,” kata Muhtarom.

Petani akan dilaporkan polisi karena menanam padi tersebut. “Mereka yang merasa terancam kemudian mengadu ke kami (Dewan),” kata Muhtarom. (tom/iwa/mg1)