Jalan Cantel Baru, Baciro, hanya sepelemparan batu dari Stadion Mandala Krida. Tepatnya di utara stadion yang dikenal sebagai markas PSIM Jogja. Di lokasi itu, tahun 1990-an banyak rumah yang digunakan pemain Laskar Mataram tinggal selama memperkuat tim. Di tempat itu, Akbar, 29, menghabiskan waktu kecilnya.

Karena akrab dengan pemain dan official tim, dia lalu diberi jersey PSIM nomor punggung 27. Mulai dari situlah dia mempunyai satu persatu jersey pemain. Dia juga kerap berkumpul dengan pemain di luar waktu latihan dan pertandingan. Selain seragam tim nomor 27, dia juga mendapat kaus PSIM nomor 10 yang dikenakan Fransisco Javier Rubio. Atau suporter mengenalnya dengan sebutan Paco Rubio. Legiun asing yang juga dipuja Aremania.”Jersey PSIM ada 100-an. Kalau dengan kaus klub Indonesia dan luar negeri 500-an,” ujarnya kemarin (22/2).

Bagi Akbar, jersey klub itu mempunyai banyak kenangan dan sejarah. Dari sepotong kain itu banyak cerita tentang pemain, perjalanan klub dan sejarah tim yang bisa memberinya banyak pelajaran. Satu yang dia ingat, salah satunya adalah jersey latihan kiper Edi Rosadi. Dia memeroleh jersey tersebut ketika masih SD.

“Ceritanya waktu itu saya sakit dan opname di rumah sakit. Lalu Pak Edi datang menengok saya dan dikasih jersey dia. Tidak menyangka waktu itu,” tuturnya. Edi Rosadi adalah salah satu kiper yang ikut membawa Persipura Jayapura juara Liga Indonesia musim 2005. Setelah pensiun sempat menjadi pelatih kiper PSGC Ciamis.

Namun dari sekian banyak seragam tersebut, ada salah satu yang menurutnya paling disayang. Yaitu jersey PSIM musim 1999-2000. Ketika itu PSIM turun kasta ke Divisi Satu. Penuh lika-liku dan harus bertanya kesana-kemari. Sampai akhirnya dia dapat satu kostum milik Wahyudianto ‘Kancil’.

Zaman dulu, faktor kedekatan dengan pemain cukup penting. Apalagi saat itu belum ada toko klub yang menjual jersey. Sehingga satu kaus tim hanya ada satu atau dua stel yang dipakai semusim. “Dulu minta ke pemain dan belum banyak pemain yang menganggap jersey itu berharga. Sekarang semua sudah tahu ada nilainya. Minimal harus ada mahar, tapi juga harus ada kedekatan,” tuturnya.

Seiring kesibukannya sebagai wiraswasta, beberapa tahun ini sudah jarang dia mengenal beberapa pemain PSIM. Namun dia tertolong dengan toko klub yang juga menjual jersey tim. Jika pun tidak mendapat milik pemain, dia beli membeli di toko tim.

Untuk perawatannya, dia tidak memberikan perlakukan khusus. Selain disimpan di lemari kaca, juga sesekali dibersihkan atau dipakai untuk menyaksikan pertandingan di stadion. Selain itu, beberapa koleksinya juga sering dipinjam untuk pameran. Seperti oleh komunitas Bawahskor dan saat ulang tahun PSIM beberapa waktu lalu.

Terkait koleksinya, beberapa kolektor memang kerap saling berkomunikasi dan meminati. Namun dia jarang menjual koleksinya kecuali jika memiliki item lebih dari satu jersey. Itupun lebih banyak dia barter ketimbang dijual.

“Selain menjadi hobi, bagi saya bermanfaat sebagai edukasi suporter untuk lebih mengenalkan klubnya,” ungkapnya. Selain itu juga sebagai pengetahuan dengan adanya jersey menjadi ingin tahu informasi skuad tahun itu. Sebab masih jarang di Indonesia ada museum klub yang lengkap mengoleksi jersey sejak awal tim berdiri.

Dia berharap, PSIM menganggap jersey sebagai modal yang potensial untuk menghasilkan pemasukkan klub. Hal itu bisa dilakukan jika manajemen mau profesional, salah satunya dalam pengelolaan jersey. Dia mencontohkan Real Madrid dan Manchester United yang membeli pemain mahal namun ternyata bisa dengan mudah ditutup biayanya hanya dari penjualan jersey.

“Saya sih berharap PSIM mendapat banyak keuntungan finansial dari jersey klub. Itu harapan saya. Selain keinginan mencari jersey PSIM musim 1998-1999 yang sampai sekarang saya belum tahu apakah ada yang masih memiliki,” katanya. (din/mg1)