GUNUNGKIDUL – Pertengahan Februari 2018 Badan Geologi melakukan penelitian di lokasi tanah amblas Gunungkidul. Namun hasilnya belum bisa dipublikasikan.

Demikian disampaikan staf seksi pencegahan dan kesiapsiagaan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Marno Kamis (22/2). Badan Geologi masih bekerja untuk mendalami fenomena tersebut.

Penelitian berkaitan dengan rongga di dalam tanah. Langsung di bawah tanah atau tidak. Di samping itu pada saat penelitian juga fokus pada pengamatan potensi amblas susulan.

“Dua tempat yang diambil sampel yakni luweng di Serpeng, Pacarejo, Semanu, dan di Dusun Pringluang, Bedoyo, Ponjong,” kata Marno.

Sekretaris Desa Bedoyo, Ponjong, Supanto mengatakan pasca-penelitian muncul enam lokasi amblesan baru. Jika sebelumnya ada empat lokasi, dalam pendataan terbaru terdapat enam amblesan dengan ukuran berbeda.

“Kondisi terbaru, tidak ada amblas susulan. Mungkin karena intensitas hujan mulai turun,” kata Supanto.

Berdasarkan data BPBD dalam beberapa bulan terakhir tercatat lokasi amblas di tujuh kecamatan, dengan amblesan sebanyak 26 titik. Sebanyak 26 amblesan di Kecamatan Saptosari, Purwosari, Rongkop, Tepus, Ponjong, Semanu, dan Paliyan.

Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Gunungkidul Handoko mengatakan ada kemungkinan lokasi amblesan belum tercatat semua. Karena sebagian belum dilaporkan.

Ahli geologi UGM Wahyu Wilopo mengatakan tanah amblas dipengaruhi hujan. Rongga bawah tanah tergerus karena terdorong beban air sehingga membetuk kubangan.

“Upayanya, membuat drainase yang baik sehingga air tidak tertampung ke wilayah rendah atau cekung. Kalau ada cekungan air mengumpul di situ dan berpotensi menyebabkan tanah amblas,” kata Wahyu. (gun/iwa/mg1)