Salah satu sosok yang cinta berat dengan sepak bola nasional adalah Dimas Wihardyanto, 34. Dia mewujudkan kecintaanya itu dengan mengoleksi lebih dari 500an jersey klub lokal Indonesia.

Koleksinya tertata rapi di dalam dua almari kaca terpisah di rumahnya. Satu di lantai bawah dan satu tumpuk koleksi lainnya berada di almari di lantai dua rumahnya.

Pria kelahiran Jakarta 27 Juni 1982 itu mulai serius mengumpulkan seragam pemain sepak bola sejak 1997. Saat itu dia masih duduk di bangku SMA. Ia juga sempat menjadi pemain klub amatir ketika itu.

Awalanya dia mengaku senang nonton bola di stadion. Sering lihat latihannya, kenal pemain dan akrab. Iseng-iseng minta, eh dikasih. Jadi keterusan.”Sampai sekarang masih koleksi,” katanya kepada Radar Jogja, beberapa waktu lalu.

Koleksi pertamanya adalah kostum Persebaya milik pemain belakang Hartono. Hartono adalah satu angkatan dengan Hendro Kartiko, Anang Maruf, Aji Santoso, Bejo Sugiantoro, dan Uston Nawawi. Saat itu Persebaya Surabaya bertanding melawan PSIM Jogja di Jogjakarta.

Bapak satu anak yang saat ini bermukim di Jalan Kaliurang Pogung Baru W5 itu sempat menjadi kontributor foto untuk beberapa media di Jogja dan Jawa Tengah. Karena itu dia dekat dengan beberapa pemain, pengurus klub, kitman dan wasit di DIJ. Hal itu dimanfaatkannya untuk menambah koleksi jerseynya.

Salah satunya adalah jersey Marcelo Braga yang pernah memperkuat PSS Sleman. Jersey itu dia dapat dari seorang wasit yang dikenal dekat dengan pemain asing asal Chile tersebut. Dosen Teknik Arsitektur UGM itu juga mempunyai empat helai jersey Laskar Sembada musim 2003-2005.

Kalau dilihat dari tahunnya, paling lama kaus timnas almarhum Iswadi Idris. Kebetulan anaknya pernah satu sekolah di SMA 3 Jogja. “Karena sudah akrab iseng-iseng saya bilang, Om kalau ada kausnya saya mau. Eh dikasih. Itu dipakai tahun 1986. Ada kotor-kotor bekas jatuh tapi masih layak,” imbuhnya.

Dari kostum-kostum tersebut juga banyak cerita unik yang didapat. Salah satunya jersey home PSS Sleman warna hijau Marcelo Braga tahun 2005 yang dia dapat 2014 di Lampung. Saat itu dia sedang mendampingi mahasiswanya yang menjalani KKN di tempat itu.

“Ada bapak-bapak sedang menyadap getah karet memakai kaus Marcelo Braga. Ternyata didapat dari anaknya yang kuliah di Jogja. Anaknya itu tetangganya Marcelo. Akhirnya saya tukar dengan 10 kilogram beras dan bapaknya mau,” ceritanya.

Mengenai kegemarannya memburu koleksi-koleksinya, dia tidak menargetkan harus selalu dapat. Namun akan dengan sabar diusahakan. Dia juga mengaku tidak mengincar khusus jersey pemain setelah pertandingan. Sebab dia mengatakan, pendekatannya itu lebih pada rasa kekeluargaan dan menjalin silaturahim sesama pengoleksi kostum lokal.

“Dulu yang paling sulit saya ingin punya kostum Praolimpiade tahun 2000 milik Widodo Cahyono Putro. Saya tahu ada yang punya di Bali. Saya dekati selama setahun belum mau dilepas, terus saya sudah hampir lupa. Tahu-tahu dia malah yang menghubungi karena perlu uang. Saya tebus Rp 5 juta,” ungkapnya.

Setelah di tangannya jersey tersebut pernah ada yang menawar sampai Rp 15 juta. Namun dia belum ingin melepasnya. Sebab dia masih ingin merawat ingatannya tentang sejarah timnas kala itu. Pada masa-masa awal tahun 2000-an adalah era dimana Bambang Pamungkas mulai pertama kali memperkuat merah putih. “Prinsipnya saya ingin mengoleksi, bukan untuk dijual. Kecuali kalau saya punya lebih dari satu. Tapi biasanya lebih senang barter dengan kostum yang belum saya punya,” ujarnya.

Jika ditilik ke lemari koleksinya, dia memang hanya mengoleksi jersey tim lokal. Menurutnya, hanya klub-klub yang memiliki kedekatan dengannya yang akan dikoleksi. Karena pernah lahir dan besar di Jakarta, dia juga punya beberapa koleksi kostumPersija, lalu juga ada Persib, Arema PSIS dan tim asal DIJ seperti PSIM, PSS dan Persiba serta Persis Solo.

“Kalau yang masih penasaran, jersey Ronny Wabia saat Piala Asia 1996. Itu pertama kali Indonesia masuk Piala Asia. Saya tahunya ada yang punya di Manado, masih akan coba saya kejar. Karena itu saksi sejarah,” paparnya.

Sedangkan untuk even AFF 2016 nanti, dia terang-terangan ingin mengoleksi seragam merah putih milik Andik Vermansyah. Pemain asal Surabaya itu menurutnya menjadi ikon tidak hanya di Indonesia tapi juga di Malaysia.

Mengoleksi jersey sepak bola lokal, bagi Dimas adalah merawat ingatan dan kecintaan pada sepak bola nasional.
Baginya, dengan semakin banyak yang koleksi jersey tim lokal dan timnas, maka banyak pula yang merawat kenangan atas cerita yang ada di balik jersey itu. Sehingga cerita dan sejarahnya bisa utuh dan semakin berwarna.

Ia juga masih menjalin hubungan baik dengan para pemain dan mantan pemain serta pengurus klub. Beberapa kontak yang masih bisa dihubungi selalu ia jalin komunikasi. Sebab rasa kekeluargaan dan keakraban terus dijalin meskipun pemain tersebut telah pensiun dari lapangan hijau.

Sisi positifnya mengoleksi jersey lokal adalah membangkitkan rasa kepemilikan pemain dan klub. Sebab di Indonesia, jarang ada pemain yang bisa bertahan lama di sebuah klub. Tidak seperti di klub Eropa yang sampai muncul sebutan one man one klub seperti Francesco Totti, Maldini, Steven Gerrard.

Dimas juga mengatakan, menurutnya pasca Piala AFF 2010, euforia masyarakat terhadap sepak bola nasional langsung melonjak. Terbukti makin banyak masyarakat yang menjadi penghobi koleksi jersey lokal. Sementara klub-klub juga mulai melirik hal itu sebagai penambah pundi-pundi keuangan klub.

“Di sisi lain persaingan memburu Jersey langka jadi susah. Pemain bola sudah ngerti kaus ternyata bisa bernilai. Hanya dengan pemain yang punya ikatan emosional dan sudah deket baru mau dilepas. Di samping pemain juga perlu mengoleksi sendiri untuk memorabilia,” pungkasnya. (din/mg1)