KULONPROGO-Jalan penghubung Pasar Sentolo Lama-Flyover Ngelo sepanjang satu kilometer kondisinya memrihatinkan. Selain bergelombang, juga lubang di mana-mana dan membahayakan pengguna jalan. Kondisi seperti ini juga ditemui di sejumlah wilayah lain.

Ironisnya, Pemkab Kulonprogo hanya memiliki alokasi anggaran yang minim untuk mengatasinya. Yang realistis dilakukan hanya melakukan penambalan. “Pos alokasi anggaran untuk perbaikan jalan di APBD 2018 nilainya hanya Rp 3 miliar untuk 12 kecamatan. Jadi hanya bisa digunakan untuk penambalan permukaan,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kulonprogo, Sukoco, Jumat (2/2).

Dijelaskan, status jalan tersebut saat ini masih jalan kabupaten, dan memang belum siap sebagai jalan penghubung dilalui kendaraan berat. Sebab, konsentrasi awal saat itu yakni sebagai jalan tembus ke flyover Ngelo menyusul rencana penutupan perlintasan Ngeseng yang dinilai rawan kecelakaan oleh PT KAI.

Jalan penghubung tersebut jaraknya sekitar satu kilomter dan awalnya merupakan jalan buntu. “Setelah perlintasan Ngeseng ditutup total, otomatis jalan tersebut digunakan sepenuhnya sebagai jalur penghubung Wates-Sentolo-Ngelo. Dengan status jalan kabupaten, peningkatan tonase belum bisa dilakukan, sebelum beralih status menjadi jalan provinsi,” jelasnya.

Ditambahkan, kapasitas jalan maksimal 6 ton, kenyataanya banyak armada tambang (truk) baik dari arah Wates menuju Sentolo maupun sebaliknya mengakses jalan tersebut, sementara tonasenya diatas kemampuan jalan. Keteblan aspel juga hanya berkiasar antara 3-5 sentimeter berupa aspal goreng. Kendati ada beberapa titik di antaranya yang sudah berupa cor beton.

“Sekali lagi perbaikan atau peningkatan jalan tersebut tidak bisa dilakukan secara serta merta dan segera. Jika belum beralih status dan harus menggunakan APBD juga harus melalui pengajuan anggaran terlebih dahulu,” imbuhnya.

Alokasi ABPD 2018 senilai Rp 3 M itu rencana akan digunakan untuk membangun 19 ruas jalan primer satu, 78 ruas jalan primer dua yang panjangnya beragam. Selain itu juga untuk pembangunan jembatan dan rehabilitasi serta peningkatan jalan.

“Kebetulan wilayah Kecamatan Sentolo rencana untuk perbaikan jalan Sentolo-Lendah, dengan kerusakan jalan penghubung tersebut, maka juga akan diprioritaskan untuk perbaikan jalan Sentolo-Ngelo tersebu, namun ya itu hanya sebatas penambalan saja,” ucapnya.

Kewenangan pengelolaan ruas Sentolo-Ngelo nantinya akan diserahkan kepada Pemerintah DIJ. Bulan ini akan dilakukan pengalihan aset, karena menjadi jalan penghubung maka statsunya akan berubah menjadi jalan provinsi.

Kepala Bidang Lalulintas dan Angkutan Jalan, Dinas Perhubungan Kulonprogo Hera Suwanto menegaskan, pihaknya akan berkoordinasi dengan DPUPKP dan kepolisian terkait pengawasan kendaraan berat yang melintas di jalur tersebut.

Menurutnya memang banyak kendaraan pengangkut tambang dengan tonase di atas 11 ton, sementara kapasitas jalanitu saat ini maksimal 6 ton. “Jalan itu memang awalnya bukan untuk tonase besar, saat dilalui kendaraan berat makan jelas akan hancur, kita akan koordinasikan terlebih dahulu dengan instansi terkait terkait langkah selanjutnya,” tegasnya.

Kamis (1/2), warga sempat merespons kerusakan jalan dengan melakukan aksi penanaman pohon pisang, garut, dan singkong serta peamasangan bendera putih di setiap lubang jalan. Warga mengaku terpaksa melakukan aksi tersebut karena kondisi jalan semakin memprihatinkan dan membahayakan pengguna jalan.

Haryanto, satu warga Pedukuhan Kalibondol, Desa Sentolo mengungkapkan, kondisi kerusakan jalan sekitar 30 persen. Salah satunya di titik sisi timur flayover, selain berlubang median jalan juga bergelombang karena tidak kuat menahan beban tonase yang melebihi kapasitas jalan.

“Kondisi jalan seperti itu sering menyebabkan kecelakaan, khususnya pengendara sepeda motor. Saat terjadi hujan lebat, kondisinya semakin berbahaya, tidak hanya licin dan lubang juga kerap tidak terlihat saat tergenang air,” ungkapnya.

Menurutnya, kerusakan jalan semakin parah saat musim penghujan datang dan perlintasan Ngeseng resmi ditutup total sebulan terakhir. “Warga berharap pemerintah segera melakukan perbaikan total, sekaligus meningkatkan kapasitas jalan sehingga layak dilalui kendaraan berat,” ujarnya.

Kepala Desa Sentolo Teguh juga berharap, Pemkab Kulonprogo segera melakukan perbaikan jalan dan diupayakan menyeluruh sehingga tidak gampang rusak. Jika memungkinkan sementara dilakukan pengalihan arus kendaraan ke jalur lain sehingga tidak memperparah keadaan.(tom/din/mg1)