SUASANA pilu terlihat di PN Sleman kemarin. Betapa tidak, saat persidangan berlangsung terdapat dua anak yang membawa kertas asturo berisi kata-kata dukungan untuk ibu mereka.

Ya, mereka adalah Azkia Zahra Nabilla, 11, dan Azkia Dias Sayyidah, 10, yang meminta agar ibunda mereka dibebaskan dari segala tuduhan. Terlebih lagi ayah merekalah yang memidanakan sang ibu.

Kasus dugaan penggelapan uang yang dilakukan terdakwa Endah Asmarawati mendapat simpati banyak pihak. Saat persidangan, kedua putri terdakwa membentangkan kertas yang berisi curahan hati mereka.

“Saya kangen ibu dan ingin ibu bisa cepat keluar,” ujar Azkia Zahra Nabila, anak sulung pasangan pelapor dan terdakwa.

Azkia yang duduk di bangku SMP IT Masjid Syuhada itu mengatakan, jika sang ayah Dio Ahmad Zaenudin (DAZ) tak memperhatikan mereka. “Tidak pernah menelepon dan tidak pernah memberi uang jajan, semuanya dari ibu,” ujarnya.

Paman Azkia atau adik terdakwa, Heri Agung Wibowo menambahkan, tidak hanya menelantarkan keluarga, sebagai seorang suami juga sering melakukan kekerasan terhadap istrinya.

“Kami dari keluarga sering melihat kakak kami menangis, kemudian ada biru lebam bekas pukulan. Kejadian itu berulang-ulang terjadi,” ungkapnya.

Heri mengatakan, pelapor tidak pernah memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. “Dia tidak mau mengerti sekolah anak bagaimana, anak harus tinggal sama siapa, sama sekali nggak peduli. Saat ini anak-anak tinggal di rumah orang tua kami. Seluruh biaya hidup, termasuk uang sekolah ditanggung oleh keluarga besar kami,” jelasnya.

Kasus yang menimpa terdakwa Endah Asmarawati ini terbilang unik. Endah dituduh menggelapkan uang suaminya sendiri, padahal mereka masih terikat perkawinan yang sah sebagai suami istri.

Menurut salah satu kuasa hukum terdakwa Tris Pratikno SH mengatakan, pelapor DAZ menuduh istrinya sendiri menggelapkan uang deposito yang diinvestasikan ke koperasi tempat di mana istrinya bekerja.

Padahal, terdakwa Endah menggunakan bunga deposito itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari terutama biaya sekolah anak.

Selama bertahun-tahun, lanjutnya, terlapor atau suami tidak pernah memberikan nafkah dengan layak kepada keluarganya. Klien ini didakwa penggelapan dalam keluarga, padahal dalam keluarga tidak ada istilah penggelapan harta suami atau istri.

Uang yang diinvestasikan atau didepositokan sebesar Rp 200 juta. Sebagian dari uang tersebut dicairkan terdakwa untuk menghidupi dirinya dan kedua putri yang kini duduk di bangku SMP dan SD.

“Seharusnya secara hukum ini tidak bisa dituntut, apalagi sang suami juga tidak memberikan nafkah kepada keluarga,” ungkapnya.

Penasehat hukum terdakwa Suraji Noto Suwarno SH menyatakan, pihak terdakwa akan menghormati proses hukum yang berlangsung. Namun, Suraji menegaskan, secara hukum acara, kasus tersebut sejatinya tidak dapat disidangkan. Ketika mengacu pada pasal 376 yang acuannya pasal 367 ayat 1 dan ayat 2 ini sebenarnya tidak bisa.

“Tapi dalam fakta, disidangkan sebagai terdakwa dan ini merupakan sesuatu yang dipaksakan,” jelasnya. (ila/mg1)