BANTUL – Sebagai guru pelajaran agama perilaku Abdurrahman Ash Shiddiq, 20, sungguh tak patut ditiru. Dialah tersangka utama upaya percobaan pembunuhan terhadap Septiana Kholifah,20, Senin (29/1). Dibantu Yongki Rama,20, Shiddiq nekat melempar Septiana ke Sungai Opak dari Jembatan Kretek setinggi 17 meter. Tersangka melakukan hal itu untuk menghilangkan jejak perbuatan bejatnya terhadap mahasiswi Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta tersebut. Hingga korban hamil tujuh bulan. Namun, tersangka tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan korban.

Dari pemeriksaan polisi, tersangka ternyata mengetahui korban berbadan dua sejak usia kehamilan tiga bulan.
Sejak saat itu pula warga Bayat, Klaten, Jawa Tengah, itu berulang kali meminta korban menggugurkan kandungan. Korban sendiri pernah empat kali mencoba menggugurkan kandungannya guna menuruti kemauan tersangka. Mulai dengan makan nanas muda hingga minum obat pelancar menstruasi. Namun, berbagai upaya itu gagal.

Melihat perut Septiana terus membesar, Shiddiq akhirnya memilih jalan pintas. Dibantu Yongki, pelaku yang juga masih tercatat sebagai mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Surakarta membujuk korban jalan-jalan ke Pantai Parangtritis, Bantul. Ketiganya mengendarai dua sepeda motor. Pelaku utama berboncengan dengan korban. Sedangkan Yongki mengendarai sepeda motor sendiri. Di tengah perjalanan, persisnya di atas Jembatan Kretek mereka menghentikan laju kendaraan. Tersangka dan korban terlibat cekcok. Tak lama kemudian Shiddiq dibantu Yongki mendorong Septiana hingga jatuh ke sungai.

Kini kedua tersangka harus mendekam di sel prodeo Polres Bantul untuk pemeriksaan lebih lanjut. Berdasarkan hasil penyidikan polisi terhadap mereka diketahui Shiddiq dan Yongki memang sengaja berencana menghabisi nyawa perempuan asal Dusun Gatak, Jotangan, Bayat, Klaten, Jawa Tengah, tersebut.

Wakapolres Bantul Kompol Mariska mengatakan, pelaku utama upaya percobaan pembunuhan itu memang pernah menjalin hubungan asmara dengan korban. Keduanya saling kenal saat sama-sama sekolah di salah satu SMK di Klaten. Selama menjalin affair itulah keduanya pernah melakukan hubungan intim layaknya suami-istri. “Sekarang kandungan korban berusia sekitar 30 minggu,” jelas Mariska Selasa (30/1).

Usai melempar Septiana ke sungai, kedua tersangka mengira korban telah tewas. Untuk menghilangkan jejak, kedua pelaku lantas berinisiatif membuang sepeda motor korban ke sungai kecil di dekat Sungai Opak.

Guna mempertanggungjawabkan perbuatan mereka, kedua tersangka dijerat pasal 351 jo pasal 365 dan 340 KUHP dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup. “Kedua tersangka kami tangkap setelah diamankan di Polsek Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah. Saat itu keduanya hendak kabur ke Jakarta dengan menumpang bus jurusan Kalideres,” jelas Kasatreskrim Polres Bantul AKP Anggaito Hadi Prabowo.

Menurut Anggaito, keduanya mengurungkan niat untuk kabur atas permintaan keluarga mereka agar menyerahkan diri ke pihak berwajib.
Selama pemeriksaan oleh penyidik, Shiddiq selalu menundukkan kepala. Guru di salah satu SD di Kecamatan Wedi Tengah, Klaten, itu mengakui semua perbuatannya. Termasuk ketika dia meminta korban menggugurkan kandungan. “Empat kali saya memintanya (menggugurkan kandungan, Red) karena belum siap menikah,” dalihnya.

Sementara itu, penelusuran Radar Solo (Jawa Pos Group) diperoleh informasi yang cukup mengagetkan publik. Dua tersangka ternyata sama-sama pernah berhubungan badan dengan korban. Menyusul adanya persoalan hukum, keluarga dua tersangka seolah berlomba-lomba untuk bertanggung jawab atas kehamilan korban.

Sebagaimana dituturkan Kepala Desa Jotangan Sriyono. Dia mengaku didatangi keluarga Shiddiq dan Yongki di kediamannya. Inti pertemuan itu, keluarga kedua pelaku siap menikahkan korban dengan salah satu tersangka. Namun, mereka mengajukan syarat agar keluarga korban tak menuntut dengan harapan proses hukum dihentikan. “Saya diminta memediasi dengan keluarga korban,” ungkapnya.
Sriyono pun sempat mendatangai kediaman korban untuk menyampaikan hal itu, tapi dia tak bertemu siapa pun. “Rumah korban tertutup rapat,” lanjutnya.

Sebagaimana diketahui, warga Dusun Gadingrejo, Donotirto, Kretek sekitar pukul 02.30 Senin (29/1) dini hari digegerkan dengan teriakan suara perempuan yang meminta pertolongan. Setelah ditelusuri ternyata Septiana terendam di aliran sungai. Dia menahan diri dari arus sungai dengan berpegangan ranting pohon. (zam/ren/yog/jpg/ong)