Merusak Rumah Warga, Anggota Geng Pelajar Dibekuk Polisi

JOGJA – Aksi klithih pelajar ternyata masih merajalela di wilayah DIJ. Yang terbaru dilakukan 28 pelajar yang tergabung dalam geng RS alias Respect. Mereka berhasil dibekuk Satreskrim Polresta Jogja Selasa (30/1) dini hari. Ke-28 remaja tanggung itu terlibat aksi pengrusakan rumah di Jalan Panjaitan, Mantrijeron, Kota Jogja, Senin (29/1) malam.
Dari tangan para pelaku aparat mendapatkan sejumlah barang bukti, di antaranya bongkahan batu, tongkat base ball, botol minuman beralkohol, dua buah gir, dan sebuah pil psikotropika.

“Mereka berasal dari 12 sekolah berbeda. Ada yang dari Bantul, Sleman, dan Kota Jogja,” ungkap Kapolresta Jogja Kombes Pol Tommy Wibisono kemarin.

Dikatakan, sebelum beraksi para tersangka terlebih dulu nongkrong di sebuah warung wilayah Kasihan, Bantul. Di sana mereka menegak minuman beralkohol dan mengonsumsi pil psikotropika. Awalnya mereka nongkrong hanya untuk merayakan ulang tahun salah sseorang anggota geng.

ORA KAPOK-KAPOK: Anggota geng pelajar yang terlibat pengrusakan rumah diperiksa di Mapolres Jogja

Seusai acara, gerombolan ini menuju arah Kota Jogja untuk menyerang pelajar lain geng Morensa. Ketika mereka sampai perempatan Pojok Beteng Kulon mendapati seseorang yang diduga anggota geng Morensa. Mereka pun lantas mengejarnya hingga Jalan D.I. Panjaitan.
Sasaran mereka lolos setelah masuk ke dalam rumah. Tak pelak rumah korban pun jadi sasaran lemparan batu. Sepeda motor korban juga dirusak. “Aksi anarkistis itu dihentikan setelah korban berteriak sebagai alumnus salah satu sekolah di Jogja,” jelasnya.
Polisi yang mendapat laporan tersebut segera melakukan pengejaran. Gerombolan geng RS tertangkap saat bersembunyi di sebuah rumah yang ada di kawasan Wirobrajan.

“Mereka bersembunyi di tempat yang mereka namakan safe house. Tempat itu juga menjadi markas,” ungkap Tommy. Di tempat itu polisi menangkap 26 pelajar. Sementara dua orang pelajar lain dibekuk usai mengikuti kegiatan belajar di sekolah siang harinya.
Meski para tersangka berstatus pelajar, polisi tetap memproses aksi anarkistis mereka sesuai prosedur hukum. Masing-masing dijerat pidana sesuai peran dan tindakan. Selama penyidikan mereka didampingi petugas badan pemasyarakatan (bapas). “Pokoknya setegas mungkin hukuman mereka sesuai hukum normatif. Agar memberi efek jera,” ujar perwira menengah Polri dengan tiga melati di pundak.

Sementara di tempat lain, polisi juga menangkap 35 pelajar dari salah satu sekolah di Kota Jogja, Senin (29/1) siang. Mereka diduga akan tawuran. “Mereka diringkus di wilayah Kraton,” ucap Kabag Humas Polresta Jogja Partuti Wijayanti.

Ke- 35 pelajar tersebut lantas dibina di Mapolresta Jogja. Masih mengenakan seragam sekolah, mereka dibariskan di halaman upacara, lalu digelandang ke ruang rapat Kapolresta untuk mendapatkan arahan.

“Karena tidak didapati benda membahayakan, makanya mereka hanya kami bina,” kata Partuti.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kadarmanta Baskara Aji mengaku cukup prihatin atas aksi kriminalitas yang masih saja terjadi di kalangan pelajar. Padahal sejumlah program pencegahan kenakalan remaja telah dijalankan di sekolah. Aji pun meyakini jika semua pelaku pengrusakan rumah tersebut telah mendapat pembinaan di sekolah masing-masing. “Kami serahkan proses hukum kenakalan remaja terhadap aparat kepolisian dengan tetap memegang prinsip hak-hak anak,” katanya.

Menurut Aji, proses hukum terhadap para pelaku kriminal kalangan pelajar sudah berjalan dengan baik. Dia berharap hukuman tersebut bisa menjadi pembelajaran. “Bagi saya kalau sudah kelewatan silakan diproses sesuai hukum yang berlaku,” tegasnya.

Aji mengklaim, selama ini telah berusaha semaksimal mungkin meminimalisasi aksi tawuran pelajar dengan menggandeng kepolisian. Upaya itu dilakukan dengan menempatkan polisi di sekolah-sekolah yang dianggap rawan konflik, terutama saat jam pulang sekolah.

Sejauh ini cara tersebut dinilainya cukup efektif menekan perkelahian antarpelajar saat jam sekolah. Namun, pengawasan pelajar di luar jam sekolah memerlukan peran serta orang tua dan masyarakat.

“Memang yang terpenting itu karakter masing-masing anak. Bila pembinaan di sekolah dan masyarakat sudah tidak mempan, maka polisi dan lembaga pemasyarakatan yang akan melakukan pembinaan,” ujarnya. (bhn/yog/ong)