MUNGKID – Potensi bencana tanah retak kembali menghantui warga di Perbukitan Menoreh. Tidak hanya menyasar perkebunan dan pemukiman penduduk. Tanah retak juga mengancam sarana dan prasarana pendidikan.

Seperti yang dirasakan Madrasah Aliyah (MA) Al Iman di Desa Margoyoso, Kecamatan Salaman. Bangunan sekolah dilalui tanah retak dan mengancam ruang kepala sekolah. Bahkan beberapa ruang kelas juga terancam.

Panjang retakan mencapai 10 meter. Sementara lebar retakan berkisar dari 1-5 cm. Tanah dinilai terus bergerak, sehingga berdampak pada retakan terus bertambah.

“Peristiwa seperti ini sudah berlangsung dua kali. Yang pertama sempat mengakibatkan paralon pecah,” ujar Kepala Tata Usaha Yayasan Perguruan Al Iman Muttaqin Senin (29/1).

Bangunan MA Al Iman dibangun sekitar tahun 1985 silam. Tanah retak mulai diketahui setahun lalu. Beberapa hari belakangan, tanah retak diketahui mulai muncul kembali.

Ada beberapa dampak yang muncul. Yaitu, lantai mengalami retak dan sudut pagar pembatas lepas. Di salah satu sudut sekolah, lantai juga terlihat amblas. “Sudah ditambal, tapi tanah terus retak,” ungkap Muttaqin.

Bangunan MA Al Iman dibangun di atas atas yang terdiri atas 11 ruang kelas. Jumlah siswa dari kelas 1-3 terdapat 154 siswa. Potensi bencana yang ada diharapkan segera mendapatkan perhatian pemerintah.

Sementara itu, Kepala MA Al Iman Margoyoso Hilmi Masykur mengaku sudah berupaya mengajukan bantuan ke Kanwil Kemenag Provinsi Jateng tahun lalu. Namun demikian, hingga kini belum ada realisasinya.

“Harapan kami sekolah segera mendapat bantuan. Agar nantinya bisa membangun penahan, senderan dan perbaikan irigasi,” jelasnya.

Bantuan diharapkan segera turun karena dikhawatirkan, jika terlalu lama retakan akan semakin lebar. Bahkan bisa mengancam bangunan sekolah dan seisinya. Kegiatan belajar mengajar pun bisa terganggu.

Selain tanah retak, bangunan sekolah juga sudah terkena bencana tanah longsor. Material tanah longsor menutup tembok dengan ketinggian lebih dari dua meter. (ady/laz/mg1)