JOGJA – Upaya memberikan efek jera terhadap pelaku vandalisme yang notabene dilakukan oleh para pelajar kadang terbentur hak-hak perlindungan anak. Maka tak heran, aksi vandalisme di Jogjakarta seolah sulit diberantas.

Saat ini, tengah diusulkan pembentukan tim anti-vandalisme yang berasal dari berbagai instansi. Pura Pakualaman menjadi inisiator pembentukan tim anti-vandalisme.

Penghageng bidang kebudayaan Pakualaman KPH Kusumo Parastho menyebut tim yang diinisiasinya tersebut diharapkan bisa memberi pelajaran, sekaligus efek jera, namun dengan cara persuasif. Misalnya, lewat paparan materi tentang kepribadian, atau tata nilai.

“Kalau perlu, bocah-bocah itu dikumpulkan di camp,” kata Parastho ditemui di Bangsal Kepatihan, Senin (29/1)

Di camp itu, para pelajar bisa mendapatkan materi kepribadian dan kebangsaan dari berbagai instansi seperti Kesbangpol atau Dinas Kebudayaan. Selain itu, dia mengusulkan pelaku vandalisme ini diberi hukuman kerja sosial.

“Kalau dibui kan tidak mungkin. Masih di bawah umur, nanti malah semakin tidak karuan karena lingkungannya,” katanya.

Pembinaan yang diberikan kepolisian juga dirasa belum memberikan efek jera. Sebab, sanksi yang diberikan masih cukup ringan. “Paling cuma diminta hapus, terus selesai, besok diulang lagi,” katanya.

Lebih lanjut, dia menilai, mekanisme pembentukan tim, masih lebih mudah dibandingkan satgas, di mana fleksibilitas personalnya memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Dia pun memperkirakan pada Maret mendatang tim anti-vandalisme sudah terbentuk.

Untuk membentuk tim, dikatakan, nantinya akan ada payung hukum. Termasuk anggaran yang digunakan untuk pembiayaan program. (bhn/ila/mg1)