BANTUL – “Tolong… tolong… Saya ada di bawah”. Teriakan suara perempuan memecah keheningan malam Dusun Gadingharjo, Donotirto, Kretek, Bantul sekitar pukul 02.30 Senin (29/1).

Teriakan yang berulang-ulang membuat warga setempat penasaran dan berusaha mencari sumber suara. Setelah ditelusuri sumber suara ternyata berasal dari bawah Jembatan Kretek. Seorang perempuan yang belakangan diketahui bernama Septiana tampak menggigil kedinginan. Mahasiswi Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta itu berpakaian komplet, lengkap dengan helm di kepalanya. Kedua tangannya memegangi ranting pohon yang tersangkut tiang jembatan di sisi utara. Sedangkan lebih separo badannya terendam aliran sungai. Perempuan 20 tahun itu terjatuh dari ketinggian sekitar 17 meter.

“Kalau nggak pegangan ranting bisa bablas dia terbawa arus (Sungai Opak, Red),” ucap Widiyanto,70, seorang saksi mata.

Di tengah guyuran hujan deras, warga setempat pun berusaha mengevakuasi Septiana dengan alat seadanya. Kemudian ada dua pemuda yang berani berenang ke tengah sungai dengan perahu kayak yang dipasangi pelampung. “Korban lantas diminta naik ke atas perahu dan ditarik ke tepi,” lanjutnya.

Septiana kemudian dibawa ke rumah Tego Suprapto, warga Gadingharjo, untuk dirawat sementara. Menurut Widiyanto, saat itu kondisi fisik Septiana cukup prima. Perempuan asal Dusun Gatak, Jotangan, Bayat, Klaten ini mampu berjalan sampai rumah Tego. Dia juga sanggup mandi dan berganti pakaian sendiri sebelum mendapat perawatan petugas puskesmas setempat.

Kendati demikian, kondisi fisik Septiana membuat curiga sebagian warga yang menolongnya. Perutnya buncit seperti wanita hamil. Tubuhnya yang kurus makin menguatkan ciri-ciri kehamilan. “Istri saya sempat tanya (soal kehamilan, Red). Tapi dia diam, mungkin malu,” ungkap Tego yang ikut mengevakuasi Septiana dengan menarik perahu kayak ke tepi sungai.

Pernyataan Tego diperkuat Murdiyanto,37, warga Gadingharjo lainnya, yang turut mengevakuasi Septiana. Menurut Yanto, sapaannya, tak lama setelah menepi Septiana sempat memberikan penjelasan tentang kronologi yang dialaminya. Termasuk kondisi tubuhnya yang berbadan dua.

“Yang menghamili ya pacarnya yang mendorong korban ke sungai itu,” beber Yanto.

Kepala Puskesmas Kretek Yuni Astuti menolak memberikan keterangan hasil pemeriksaan medis terhadap Septiana. Dia beralasan, rekam medis merupakan hak pasien. “Hasil pemeriksaan sudah kami sampaikan ke polisi,” dalihnya.

Dari pantauan Radar Jogja, Septiana memang sempat dirawat di instalasi gawat darurat (IGD) Puskesmas Kretek. Tapi, tak lama kemudian dia dipindah di ruang bersalin. Ikhwal kehamilan Septiana dibenarkan Kepala Dinas Kesehatan Bantul Maya Sintowati Pandji. Maya mengaku ikut memantau langsung perkembangan kesehatan Septiana. Dari hasil pemeriksaan tim medis puskesmas, menurut Maya, kondisi Septiana sehat. Begitu pula dengan janin yang dikandungnya. “Sudah di USG. Janinnya sehat. Sekitar tujuh bulan,” ungkapnya.

Sementara itu, dari penelusuran Radar Jogja, terduga pelaku percobaan pembunuhan itu tak lain bekas pacar Septiana berinisial Sdk,21, warga Desa Banyuripan, Bayat, Klaten. Sdk diketahui berprofesi sebagai guru di salah satu SD di Kecamatan Wedi Tengah, Klaten. Saat menjalankan aksinya, Sdk tidak sendirian. Dia dibantu seorang temannya, Yki,21, juga asal Bayat.

Pelaku nekat melempar Septiana ke sungai diduga untuk menghilangkan jejak. Sebab, dia tak mau bertanggung jawab atas kehamilan Septiana. Pelaku juga membuang motor korban Honda Supra AD 3389 ES di sungai kecil tak jauh dari Jembatan Kretek.

Terpisah, Kapolsek Kretek Kompol Leo Fasak membenarkan bahwa Septiana sengaja dilempar ke sungai oleh teman dekatnya sendiri. “Sebelum kejadian itu mereka sempat cekcok. Korban lantas dilempar ke sungai dari sisi timur jembatan,” katanya.

Meski polisi sudah mengantongi identitas para pelaku, hingga kemarin sore keduanya masih buron. “Soal motifnya masih kami selidiki,” lanjut Leo.

Winda, teman Septiana yang membesuknya di Puskesmas Kretek kemarin membenarkan jika korban adalah mahasiswi UNS semester V. “Kami satu SMK di Klaten. Meski saya cukup kenal pribadinya, tapi Septiana tak pernah cerita tentang masalahnya,” ungkap Winda.(zam/yog/mg1)