SLEMAN – Memasuki puncak musim penghujan, kecepatan angin meningkat. Menyikapi kondisi itu, Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG DIJ Djoko Budiyono meminta warga DIJ waspada.

Djoko menuturkan, peningkatan signifikan berawal dari kawasan pesisir. Penyebabnya adanya perbedaan tekanan udara yang cukup besar di Pulau Jawa. Saat ini bagian utara equator atau laut China Selatan bertekanan tinggi sekitar 1.018 hPa.

“Sedangkan tekanan udara di selatan equator atau kawasan perairan Australia mencapai 990 hPa. Perbedaan selisih yang cukup besar pada permukaan laut ini memicu pergerakan angin yang masuk wilayah Indonesia menjadi lebih besar,” jelasnya Senin (29/1).

Kondisi ini diperkuat dengan munculnya beberapa tekanan rendah di Samudera Hindia. Kondisi ini terpantau mulai dari selatan Pulau Jawa hingga kisaran Benua Australia. Alhasil kecepatan angin di selatan Jawa termasuk Jogjakarta menjadi lebih besar.

Berdasarkan data BMKG DIJ kecepatan angin di selatan Jawa mencapai 27 hingga 46 km/jam. Artinya kecepatan angin dalam rentang masuk dalam kategori tinggi. Dampak angin yang tinggi turut memicu tinggi gelombang berkisar 2,5 hingga 4 meter.

“Kondisi ini perlu diwaspadai selama periode puncak musim hujan di Jogjakarta. Perkiraan masih berlangsung hingga pertengahan Februari. Kecepatan angin khususnya di bagian selatan Jawa masih cukup signifikan,” ujarnya.

Dia juga menginformasikan keberadaan awan Cumulonimbus (Cb). Awan ini menjadi penyebab lain munculnya angin kencang. Bahkan turut menjadi penyebab turun hujan dengan intensitas tinggi.

Munculnya awan Cb kerap tak terduga. Satu kondisi pada pagi terlihat cerah, maka siang hingga sore bisa beralih mendung berawan. Peningkatan suhu di permukaan laut ikut mendukung terbentuknya awan ini.

“Saat ini jenis awan ini banyak terbentuk. Ciri awan ini kalau hujan skalanya lokal, periodenya singkat namun dampaknya cukup besar. Seperti hujan lebat yang disertai petir, angin kencang ataupun puting beliung ,” katanya.

Terpisah, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan menuturkan, dampak dari angin kencang mulai terdeteksi di berbagai pelosok Sleman. Setidaknya tercatat sembilan kejadian dari Minggu (28/1) hingga Senin (29/1). Mayoritas akibat hujan deras disertai angin, hingga dampak sekunder pohon roboh.

Dia mengungkapkan, bahaya bukan hanya dari hujan dan angin kencang tapi juga dampak sekundernya. “Pohon roboh, baliho ambruk, banjir atau genangan air hingga waspada longsor. Kami selalu berkoordinasi dengan BMKG dan relawan untuk antisipasi kejadian,” jelas Makwan. (dwi/ila/mg1)