TAK ada yang tampak beda dalam kehidupan sosial pelaku LGBT di masyarakat. Sebagaimana pernyataan pakar hukum tata negara Universitas Islam Indonesia (UII) Prof Mahfud MD bahwa tidak ada penolakan masyarakat terhadap LGBT sebagai manusia. Yang harus ditolak adalah perilaku mereka yang dinilai menyimpang.

Pelaku LGBT juga ingin bisa diterima masyarakat. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang berhasil dalam karya maupun meraih prestasi. Bahkan tak sedikit yang aktif dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Karena itulah mereka tak mau dipandang sebelah mata hanya karena orientasi seksual yang tak seperti lazimnya masyarakat. Karena itulah mereka menolak dikriminalisasi lewat undang-undang.

Seperti dituturkan salah seorang transgender Jogja Shaendy Tawain.

Meski memiliki orientasi seksual yang oleh khalayak dinilai menyimpang, kata Shaendy, bukan berarti mereka tidak bisa berbuat hal baik yang bermanfaat untuk orang banyak.

“Selain kuliah aku juga sibuk di dunia entertain seperti di event organizer atau jadi master of ceremony (MC) acara. Selama ini saya masih diterima baik oleh teman-teman, baik di kampus maupun di lokasi kerja,” ungkapnya.

“Mereka mengapresiasi kemampuan saya. Bukan status saya sebagai transgender,” lanjut Shaendy yang saat ini tengah sibuk menyelesaikan skripsinya.

Soal pro kontra dan adanya penolakan terhadap perilaku LGBT, menurut Shaendy, itu sah-sah saja. “Tapi semua itu sebaiknya harus ditelaah lebih dalam,” usulnya.

Shaendy menegaskan, tak sepantasnya jika pelaku LGBT yang tidak melakukan tindakan kriminal kok dikriminalisasi hanya karena perilaku atau orientasi seksual yang tak lazim.

“Orientasi seks kami memang menyimpang, tapi kalau sampai ada undang-undang yang menjadikan LGBT sebagai tindak pidana, itu jelas tidak masuk akal,” katanya.

Bagaimana jika DPR RI akhirnya mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang memuat pemidanaan bagi pelaku LGBT? Menanggapi hal itu, Shaendy menilai pemerintah sama saja membatasi ruang gerak pelaku LGBT untuk berkarya dan berprestasi.

“Pelaku LGBT itu banyak yang berprestasi dan berbakat cemerlang. Beberapa jadi penulis, penyanyi, desainer, dan profesi lainnya. Sayangnya banyak kalangan seolah menutup mata soal itu dan memilih menuruti paradigma bahwa apa yang LGBT lakukan adalah sebuah kesalahan besar,” sesalnya.

Shaendy membantah anggapan pelaku LGBT sebagai salah satu sumber penularan HIV/AIDS. Dia mengklaim, pelaku LGBT sadar dengan yang mereka lakukan (berhubungan seks, Red). Bahwa tindakan itu berisiko besar terhadap penularan HIV/AIDS. Untuk mencegahkan, mereka memilih me-warning-diri sendiri dengan menggunakan pengaman.

Karena itulah Shaendy berharap masyarakat tak melihat pelaku LGBT hanya dari cover-nya. Tanpa mengenal perilaku sosial mereka sehari-hari. Misalnya dalam hal pertemanan. Shaendy mengklaim kaum LGBT sangat loyal dengan siapa saja yang mereka anggap teman, baik untuk orang normal maupun pelaku LGBT sendiri.

Mengenai dirinya sendiri, Shaendy mengaku awal mula memilih menjadi perempuan sejak duduk di bangku taman kanak-kanak (TK). Saat itu dia suka mengenakan baju atau pakaian perempuan milik kakak-kakaknya. Shaendy adalah laki-laki di antara empat kakak perempuannya. Shaendy lebih nyaman mengenakan pakaian wanita ketimbang baju-baju pria.

Seiring bertambahnya usia, Shaendy menyadari dirinya mulai tertarik dengan pria tampan daripada wanita cantik.

“Dari situ aku menyadari kalau aku ingin jadi perempuan. Makanya aku mulai berdandan seperti cewek selepas SMA,” ujar sosok asal Tual, Maluku, ini.

Dosen Fakultas Kedokteran UII dr Rosmelia MKes SpKK memandang, gaya hidup LGBT yang membahayakan adalah perilaku seksual mereka. Inilah yang potensial menyebarkan infeksi HIV/AIDS. Rosmelia menyebut, saat ini terjadi 48 ribu kasus baru HIV/AIDS, sehingga total ada 600 ribu pengidap, yang mana separonya adalah kaum homoseksual.

“Yang berhasil di obati ada sekitar 13 persen. Gaya hidup homoseksual merupakan jalur yang paling memudahkan inveksi HIV masuk. Hal ini tentu membuat beban pemerintah semakin besar,” ungkapnya.

Sementara itu pengamat hukum UII Nandang Sutrisno SH LLM MHum menilai perilaku LGBT telah merusak moralitas generasi penerus. Karena itu dia menolak pelegalan LGBT di Indonesia karena bertentangan dengan ajaran agama, nilai sosial masyarakat, dan harkat derajat manusia.(ita/yog/mg1)