Seorang gay asal Jogja, sebut saja inisialnya RT, menyatakan, LGBT bukanlah gaya hidup yang bisa menular atau ditularkan kepada orang lain.

“LGBT adalah orientasi seksual yang cenderung memandang pada hal yang disenangi. Perasaan ini murni muncul dari pribadi masing-masing. Bukan karena sering berkumpul dengan pelaku LGBT,” ungkap RT yang menegaskan bahwa LGBT bukanlah hal yang bisa dipaksakan.

RT membantah penilaian LGBT sebagai gaya hidup yang meresahkan dan membahayakan moral. Menurut RT, saat ini bukan hanya LGBT yang banyak dikaji di ranah keilmuan. Tapi LGBTQIA+, yakni lesbian, gay, biseksual, transgender, queer, interseks, dan aseksual. Kajian ini tidak hanya mengacu pada orientasi seksual, tapi lebih dari itu menyentuh identitas gender.

Seperti pada interseks, yang terjadi dari kelainan genetika sehingga membuat seseorang lahir dengan fisik tubuh pria namun berkelamin wanita, atau sebaliknya.

“Kalau kami sebagai pelaku LGBT kemudian harus ditindak pidana, bagaimana nasib seseorang yang memang dari lahir sudah mempunyai kelainan genetika tersebut. Masyarakat harus membuka soal ini, kebanyakan di luar negeri melegalkan dan memberikan hak-hak LGBT ini karena memang mereka tidak menutup mata dan kami sebagai manusia juga berhak menerima itu,” ungkapnya.

RT juga menolak anggapan LGBT sebagai pupulasi kunci penyebaran HIV/AIDS karena sering ganti-ganti pasangan. “Pelaku LGBT justru lebih peduli penyebaran virus tersebut dan melakukan proteksi lebih dibanding masyarakat pada umumnya,” klaim dia.

Dari banyak literatur yang dipelajari RT, menurutnya, pengidap HIV/AIDS malah ibu-ibu rumah tangga yang tertular dari suami yang melakukan hubungan seks dengan sembarang orang atau pekerja seksual.

“Berbeda dengan kami, pelaku LGBT kebanyakan malah mempunyai pasangan yang setia dan dapat menjalin hubungan hingga bertahun-tahun. Itu pun kami tetap memproteksi diri dengan menggunakan kondom,” ujar pria yang telah memasuki tahun kelima bersama kekasihnya ini.

Satu hal yang ingin dia tekankan adalah, orientasi seksual pelaku LGBT tak akan otomatis hilang ketika mereka harus dipidana dan masuk penjara. Karena itu pemidanaan perilaku LGBT dinilainya tidak tepat.

Psikolog Ega Asnatasia Maharani Maharani mengatakan, lepas dari pro kontra perumusan aturan tentang LGBT, dampak sosial keberadaan mereka sangat besar bagi masyarakat. Dari sudut pandang psikologi, kata dia, LGBT tergolong penyimpangan norma, moral, dan seksual. Bukan saja soal penularan HIV/AIDS, tapi lebih pada masalah sosial masyarakat.

Dampaknya sangat panjang dan kompleks. Bahkan bagi para pelaku LGBT sendiri. Berkaca pada kasus-kasus yang pernah terjadi, pelaku LGBT cenderung over protective terhadap pasangan. Hal ini berimbas pada terjadinya kekerasan, bahkan pembunuhan terhadap pasangan.

Secara medis, lanjutnya, ada penyimpangan penggunan alat kelamin. Pemanfaatannya bukan pada fungsional seksual. Mereka juga menabrak konstruksi sosial dan hakikat menikah yang seharusnya bertujuan memiliki keturunan. Sementara kaum LGBT berdalih, anak bisa diperoleh melalui adopsi.

“Tentang hubungan sek, pakai kondom hanya dalih pencegahan penyakit. Tapi secara tata aturan norma tetap salah. Sekali lagi bicara ini tidak hanya sekadar hubungan seksual semata, tapi lebih pada dampaknya,” tegas Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universiats Ahmad Dahlan (UAD) Jogjakarta ini.

Ega tidak setuju klaim pelaku LGBT yang menyebut perilaku mereka tidak menular. Menurutnya, penyimpangan psikologis berdampak signifikan terhadap lingkungan. Terlebih individu terpapar secara intens, baik melalui pertemuan maupun lingkungan pergaulan.

“Definisi menular ya seperti itu. Artinya kena paparan lingkungan,” jelasnya.

Akibat lingkungan permisif dan menganggap hal menyimpang sebagai hal biasa, maka secara psikologis seseorang bisa terpengaruh dan menerima bahwa hal itu (LGBT) sifatnya lumrah dan bisa menjadi pilihan. (ita/dwi/yog/mg1)