SLEMAN – Penyelundupan narkoba ke Lapas Narkotika Kelas II A Jogjakarta kembali terjadi. Modusnya mirip dengan kasus yang melibatkan aparat Kejaksaan Negeri (Kejari) Sleman pada akhir 2016 silam. Narkoba dititipkan kepada tahanan saat menjalani sidang pengadilan. Hal ini kembali terulang Selasa (23/1) lalu.

Namun, upaya penyelundupan narkoba jenis sabu tersebut berhasil digagalkan aparat Satreskoba Polres Sleman dan Kejari Sleman.
Informasi yang diperoleh Radar Jogja, dugaan awal sabu diselundupkan tahanan berinisial FM dengan disembunyikan di alas sandal jepit yang telah dilubangi. Namun, saat ditangkap anggota Satreskoba, petugas tidak menemukan barang bukti.

Dari situ muncul dugaan lain sabu telah ditelan atau diselipkan dubur tahanan tersebut. Karena itu tim Satreskoba meminta izin ke Lapas Narkotika untuk membawa tiga tahanan yang diduga kuat membawa sabu. Mereka di bawa ke rumah sakit untuk di-rontgen karena saat penggeledahan tidak ditemukan barang haram itu.

Biasanya, tahanan segera digelandang ke Lapas Narkotika setiap kali usai menjalani persidangan. Tapi guna keperluan pemeriksaan, ketiga tahanan tersebut diantar kembali ke lapas Rabu (24/1) sekitar pukul 01.00 dini hari.

Kalapas Narkotika Kelas II A Jogjakarta Erwedi Supriyatno membenarkan hal tersebut. Saat balik ke tahanan, Erwedi memastikan ketiga tahanan itu sehat. Namun, ketiganya tak langsung dimasukkan ke sel seperti biasanya. Untuk kepentingan penyidikan, ketiganya ditempatkan di ruang isolasi dengan pengamanan ekstra oleh regu pengamanan malam. Tujuannya, menghindarkan pelaku menghilangkan barang bukti. Keesokan harinya mereka dipindah ke Blok Edelweise untuk pengasingan. Sekitar pukul 08.15 tim medis mengontrol kesehatan mereka dan mendapati FM mengalami demam tinggi secara mendadak.

FM lantas dirujuk ke RS Grhsia di Pakem, Sleman. Beberapa jam setelah menjalani perawatan, FM muntah-muntah. Nah, dari dalam mulut FM turut keluar sebuah benda kecil berbentuk kotak bercampur muntahan.

“Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan tes darah FM positif mengandung amfetamin dan metamfetamin,” ungkap Erwedi kemarin (25/1). Karena kondisi kesehatan FM makin gawat, lanjut Erwedi, yang bersangkutan dirujuk ke RSUP Sardjito sore harinya sekitar pukul 15.30.
Kasus tersebut lantas dilaporkan ke Kejari Sleman dan diteruskan ke Polres Sleman. Itu mengingat FM masih berstatus sebagai tahanan Kejari Sleman. Sekitar dua setengah jam kemudian tim dari Kejari Sleman mendatangi RSUP Sardjito untuk melihat kondisi FM. Saat itu pula petugas lapas menyerahkan FM kepada tim jaksa. Sementara barang bukti sabu dalam kotak kecil yang ditelan FM diserahkan ke Polres Sleman.
Belakangan, Radar Jogja mendapatkan informasi FM meninggal kemarin pagi. Hal ini dibenarkan Erwedi. “Saya dengar juga seperti itu,” ungkapnya. (dwi/yog/ong)