Fenomena Langka yang Bikin Heboh Masyarakat dan Warganet

Cuaca ekstrem masih melanda sebagian wilayah DIJ dan Jawa Tengah. Hujan es yang turun di Kota Magelang kemarin (24/1) cukup menghebohkan masyarakat setempat. Fenomena ini tak lazim, sebagaimana hujan yang biasa melanda Kota Getuk.

FRIETQI SURYAWAN, Magelang
Hadi kaget saat wajah dan tangannya terasa nyeri saat hujan mengguyur tubuhnya saat melintas di Jalan Sarwo Edhie Wibowo, Pakelan, Kota Magelang sekitar pukul 13.00. Warga Kelurahan Banyurojo, Mertoyudan, itu awalnya mengira hujan biasa. Suara “pletok-pletok” saat hujan mengenai helm yang dikenakannya membuat dia curiga. Apalagi kejadian itu berlangsung cukup lama. Kurang lebih sepuluh menit.

Setelah diamati ternyata yang mengguyur tubuhnya bukanlah air hujan seperti biasanya. Tapi berupa air dalam bentuk padat seperti bongkahan es berukuran kerikil. “Oh…ternyata hujan es. Pantas saja sakit saat kena wajah dan tangan saya,” ungkap pria 30 tahun itu.

Fenomena langka itu terjadi di sekitar perbatasan wilayah Kecamatan Magelang Selatan, Kota Magelang dan Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Selain hujan turun sangat lebat, kondisi jalanan saat itu cukup gelap karena tertutup kabut. “Seperti tak percaya, tapi ternyata memang hujan es,” tutur Hadi yang lantas mengabadikan bongkahan es kecil-kecil itu dengan kamera handphone-nya. Tak sedikit pula yang mengunggah foto bongkahan es ke media sosial.

Hal senada diungkapkan Fadholi, guru MAN Kota Magelang. Beberapa murid ketakutan karena hujan sangat lebat dan mengelurkan bunyi cukup keras saat mengenai atap kelas. Sebagain murid bahkan sempat keluar kelas karena ketakutan dan ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi.

DAMPAK AWAN CUMULONIMBUS: Hujan deras disertai bongkahan es seukuran kerikil mengguyur wilayah Kota Magelang Rabu (24/1). Foto kanan, bongkahan es jadi objek foto sebagai fenomena langka yang penting untuk diabadikan.(Frietqi suryawan/radar jogja)

“Mereka penasaran. Ternyata banyak bongkahan es di atas genting,” katanya.

Hujan lebat disertai bongkahan es mengakibatkan kabel listrik di depan kantor Samsat Kota Magelang terlepas. Lampu penerangan jalan di kawasan tersebut pun padam beberapa menit. Hal itu membuat polisi harus mengalihkan arus lalu lintas di sekitar Jalan Soedirman sampai Simpang Tiga Hotel Trio. “Tidak ada yang terluka. Hanya sebentar lalu lintas lancar lagi,” kata Kasubbag Humas Polres Magelang Kota AKP Esti Wardiani.

Meski dinilai sebagai fenomena langka, hujan es yang melanda wilayah selatan Kota Magelang bisa dijelaskan secara ilmiah. Kondisi itu terpantau Stasiun Klimatologi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIJ. “Di radar kami terdeteksi awan cumulonimbus warna oranye merah. Awan ini yang berpotensi menghasilkan hujan es,” ungkap Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG DIJ Djoko Budiyono.

Awan cumulonimbus berbentuk vertical dan menjulang tinggi. Kondisi itulah yang menyebabkan puncak awan bersuhu sangat dingin. Suhu awan bisa mencapai di bawah nol derajat Celsius. “Saking dinginnya sehingga terbentuk kristal es,” jelasnya.

Turunnya kristal es ke bumi, lanjut Djoko, sebagai akibat adanya pergolakan angin yang kuat di dalam awan itu. Atau bisa juga kristal es terpental ke bawah akibat loncatan muatan petir. (yog/dilengkapi Adidaya Perdana dan Dwi Agus/ong)