Banyak Diminati Bule, Pernah Kolaborasi di Ajang Internasional

Anak muda mempunyai berbagai macam cara kreatif untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Seperti yang dilakukan Maharsitama Anindita dengan usahanya bernama Castle Kaus Lukis.

MUHAMMAD IKHSAN, Jogja
Mahar, panggilan Maharsitama Anindita, bercerita banyak tentang usahanya mengembangkan batik lukis yang disesuaikan dengan gaya fesyen anak muda. “Selama ini batik dianggap kuno dan tua. Banyak anggapan pakaian motif tradisional ini hanya bagus dikenakan untuk acara formal. Padahal, batik juga bisa merepresentasikan anak muda,” ujarnya.

Castle Kaus Lukis sudah menjadi usaha yang ditekun Mahar sejak empat tahun lalu. Dikatakan, ide awalnya cukup sederhana yakni memberdayagunakan para seniman lokal. Dia ingin usahanya juga memiliki dampak untuk orang lain di sekitarnya.

“Keinginanku ini memang berawal dari lingkunganku yang dipenuhi para seniman lukis. Dari situ aku melihat potensi cukup besar dengan mengajak mereka berkolaborasi dalam usahaku ini,” ujar cowok yang suka dengan seni teater ini.

Mahar pun mencoba melukis kaus dan dipasarkan melalui Facebook. Respons positif dari konsumen ia dapatkan, hingga ia mulai menggeluti bidang bisnis kaus lukis ini dengan serius. Penghasilan yang didapatkan pun cukup lumayan, sampai jutaan rupiah.”Satu bulan sekitar 40 kaus bisa terjual dengan harga kisaran 220 ribu per biji. Tapi harus dilihat juga tingkat kesulitannya, soalnya tiap kaus harus dilukis satu-satu,” ungkapnya.

Yang menggembirakan, konsumennya tidak hanya berasal dari dalam negeri saja, tapi hingga mancanegara. “Ada yang tinggal di Singapura, Australia, London, bahkan New York,” ungkapnya bangga.

Selain telah menjual kaus lukisnya ke pasar internasional, Castle Kaus Lukis juga pernah berkolaborasi dengan beberapa desainer asal Indonesia. Yakni saat ajang fesyen internasional, ASC Summer Fashion Week, pada tahun 2016 di New York. Selain itu juga di ajang Jogja Fashion Week 2017.

“Itu semua karena jaringan. Kami diminta mengirimkan beberapa karya dan akan dikombinasikan dengan karya desainer yang tampil di sana. Kami kirim 20-30 karya, terus dipamerkan dan sekaligus sebagai awal kami masuk ke industri global,” katanya.

Kepada para anak muda, Mahar mengajak jangan takut untuk mengejar mimpi. Banyaknya permasalahan tidak harus dijadikan hambatan, melainkan batu loncatan. Konsisten dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin adalah salah satu cara mencapai mimpi itu dan melakukan hal besar untuk lingkungan sekitar.

“Selagi kamu muda, manfaatin waktumu buat cari apa sih yang aku bisa dan aku lakukan untuk lingkunganku. Jadi push limit kamu dan jangan berada di zona nyaman,” katanya.

Apalagi, lanjutnya, kalau melihat di Castle Kaus Lukis ini banyak orang-orang terlibat dan menggantungkan hidup di dalamnya. “Jadi kalau saya merasa bosan dan capek, saya jadi terpacu untuk berbuat lebih baik lagi,” tandas Mahar. (laz/ong)