Dua Tersangka Hanya Dikenakan Wajib Lapor

SLEMAN – Jual beli satwa langka kembali terjadi di DIJ. Kali ini hewan dilindungi yang menjadi objek transaksi ilegal adalah buaya muara. Satwa liar ini diperjualbelikan secara online. Dua tersangka berinisial SD,25, dan EN,22, ditangkap oleh polisi yang menyamar sebagai calon pembeli di Dusun Ngabean Kulon, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Rabu (17/1).

Direskrimsus Polda DIJ Kombes Pol Gatot Agus Budi Utomo mengungkapkan, terbongkarnya kasus jual beli satwa liar ini bermula pengawasan tim Cyber Patrol Polda DIJ.

Penangkapan tersangka berawal ketika mereka menawarkan buaya sepanjang 85 cm dengan harga Rp 800 ribu melalui akun Facebook atas nama Nadilla Putri. Dalam aksi mereka, SD berperan sebagai pengiklan. Sementara EN pemilik buaya.
Saat dilakukan penggeledahan di kediaman tersangka polisi menemukan dua buaya lain. Masing-masing berukuran panjang 1,7 meter dan 65 cm.

Meski dinyatakan bersalah, sejauh ini kedua tersangka tidak ditahan. Keduanya hanya dikenakan wajib lapor dua kali dalam seminggu. Tidak ditahannya para tersangka dengan alasan karena mereka masih duduk di bangku kuliah. Keduanya juga dijamin oleh keluarga masing-masing.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIJ Junita Parjanti menegaskan, transaksi satwa langka melanggar Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya. Siapa pun yang terlibat diancam hukuman maksimal lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta. Itu sebagaimana diatur pada pasal 40 ayat (2) jo pasal 21 ayat (2) huruf a dan c undang-undang tersebut.

“Buaya muara tergolong langka dan dilindungi seperti buaya siam, buaya Irian, dan buaya Sinyulong. Tidak boleh ditransaksikan,” tegas Junita Selasa (23/1).

Menurut Junita, para tersangka mendapatkan buaya muara di alam liar. Nah, itu bukan berarti satwa liar yang dilindungi tidak boleh ditangkarkan. Dengan catatan harus ada izin dan pemerintah. Penangkaran pun harus melalui prosedur hukum.

Sementara mengenai kelanjutan penyidikan terhadap tersangka, Junita menyerahkannya kepada penegak hukum. Sedangkan buaya muara yang menjadi barang bukti kejahatan SD dan EN untuk sementara dititipkan di Kebun Binatang Gembiraloka (GL Zoo) Jogjakarta.

Kepala Seksi Wilayah II Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Jawa Bali Nusa Tenggara, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Sidonius Tri Saksono menambahkan, Jogjakarta termasuk daerah rawan transaksi hewan liar dilindungi. Sebagaimana diketahui, pada pertengahan 2017 silam juga terjadi transaksi satwa liar di DIJ. Berupa lima ekor kucing hutan (Felis Bengalensis), dua jelarang (Ratufa Bicolor), trenggiling (Manis Javanica), dan elang alap-alap (Accipitridae), landak (Hystrix Sp), dan garangan Jawa (Herpestes Javanicus).

Maraknya jual beli satwa liar, menurut Sidonius, turut disebabkan lantaran hukuman bagi pelaku yang terlalu ringan. Sehingga tidak bisa menimbulkan efek jera. Kasus tersebut makin sulit diungkap lantaran para pelaku memanfaatkan media sosial untuk sarana transaksi. “Makanya untuk pengawasan satwa liar kami kerja sama dengan kepolisian dan cyber,” katanya. (dwi/yog/ong)