MUNGKID- Warga di Lereng Perbukitan Menoreh merasa waswas. Ini menyusul munculnya peristiwa tanah bergerak di Dusun Karangkulon, Desa Kalirejo, Kecamatan Salaman. Tanah retak diketahui dengan panjang mencapai sekitar 50 meter, dengan lebar retakan antara 1-1,5 meter. Apapun lebar kawasan retakan bisa mencapai sekitar 40 m.

Peristiwa ini bermula saat hujan mengguyur kawasan Lereng Menoreh, Minggu (21/1). Tanah labil hingga menyebabkan longsoran kecil, tanah retak dan mengalami pergerakan. Amblasnya tanah kali ini merupakan kejadian susulan yang sebelumnya sudah menyasar ruas jalan sekitar. “Awalnya hanya sekitar 1 kilan. Namun diketahui semakin amblas hingga mencapai 0,5 meter,” ujar Sabarudin, 35, warga Dusun Karangkulon.

Awalnya, bencana tanah longsor mengancam ruas jalan alternatif Magelang – Purworejo via Kalirejo, Kecamatan Salaman akhir tahun silam. Longsoran mengakibatkan ruas jalan penghubung nyaris putus total pada 30 November silam. Peristiwa itu kemudian segera diantisipasi pemerintah.

Jalan direnovasi dan dibuat jalur baru di sebelah longsoran. Arus lalu lintas pun kembali berjalan normal. Namun, kurang dari dua bulan, tanah retak kembali mengancam warga, termasuk ruas jalan tersebut. “Selain kebun saya retak, peristiwa ini juga mengancam usaha kandang ayam milik warga lain,” jelas Sabarudin.

Tanah amblas ini membentang seperti huruf U. Pohon – pohon di kebun juga terlihat miring. Sebagian kandang usaha peternakan ayam sudah roboh.

Insiden tanah bergerak ini juga sudah mendapat perhatian dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPU PR) Kabupaten Magelang. Petugas sudah mengecek dan mendatangi lokasi kejadian. Tanah retak diketahui memanjang sekitar 50 m dan area retakan mencapai 40 m. Adapun lebar retakan antara 1 sampai 1,5 meter.

Sebelum tanah retak terlihat jelas pada Senin kemarin, pada Sabtu (20/1) silam petugas juga sudah membersihkan material longsoran di sekitar lokasi kejadian. Tanah longsor dengan ketinggian sekitar 1 m sempat menutup ruas jalan alternatif Magelang – Purworejo via Desa Kalirejo. “Kami koordinasikan dengan instansi lain,” kata Operator Peralatan dan Pembekalan DPU PR Kabupaten Magelang Mustabir.

Kades Kalirejo Agus Prasetya sangat berharap, peristiwa tanah bergerak segera mendapat perhatian lebih dari Pemkab Magelang. Kejadian serupa juga sempat terjadi pada akhir tahun silam. Tak disangka, tanah bergerak kembali berulang.

Jika tidak segera diatasi, ia khawatir akan berdampak ke area tanah yang lain. Tanah bisa terus bergerak dan menutup arus sungai Sendang, yang berada di bawahnya. Material tanah longsor bisa menutupi sungai dengan lebar 3 meter dan airnya melimpah ke pemukiman penduduk. “Yang terdampak nantinya bisa ke Dusun Brudan dan Karangkulon. Terdapat 30 rumah yang dihuni sekitar 100 jiwa,” ungkapnya .

Tanah bergerak yang terjadi pada akhir tahun silam, sudah dikerahkan alat berat berupa backhoe di lokasi kejadian. Jalan yang terancam putus diurug lalu dibuat ruas jalan baru. Untuk mengantisipasi peristiwa tanah bergerak, ia pun meminta warga untuk mengungsi sementara waktu jika ada hujan. “Bencana tersebut sudah dilaporkan dan backhoe dua kali ke lokasi. Kami minta warga untuk mengungsi sementara waktu,” jelasnya.

Agus pun akan meminta kembali bantuan Pemerintah Kabupaten Magelang agar segera mendapat penanganan. Dari 10 dusun di Desa Kalirejo, 9 di antaranya berada di kawasan rawan bencana. Kontur tanah terjal, sementara rumah penduduk dibangun di perbukitan. “Di sembilan dusun itu terdapat 5.000 jiwa terancam karena tinggal di kawasan rawan bencana. Rumah dibangun di area tebing. Meskipun bahaya, warga tetap nekat membangun dengan alasan hanya memiliki lahan di situ,” katanya. (ady/din/mg1)