JOGJA – Manajemen PSIM Jogja akhirnya menjawab pertanyaan mayoritas suporter terkait pembentukan tim. Yakni kegelisahan mengenai belum adanya pergerakan tim menyongsong kompetisi Liga 2 musim 2018. Manajemen memastikan tim akan dibentuk setelah ada kejelasan regulasi dari PSSI dan operator liga.

“Regulasi kompetisi sampai saat ini belum jelas. Aturan pemain, formatnya kompetisi akan seperti apa. Apakah dua wilayah atau jadi satu semua masih wacana. Apakah masih ada pembatasan usia seperti kemarin atau tidak belum ada kepastian,” ujar manajer PSIM Agung Damar Kusumandaru saat sarasehan dengan suporter di Monumen PSSI, Minggu malam (21/1).

Agung mengatakan, pihaknya hanya melihat asas kemanfaatan. Menurutnya jangan sampai tim keburu dibentuk namun ternyata tidak sesuai dengan regulasi. Disinggung mengenai pertimbangan anggaran dan pembiayaan, pria yang juga anggota DPRD Kota Jogja itu tidak menolak maupun mengiyakan.

“Musim lalu kami hampir dua bulan membiayai tim tapi kompetisi ternyata molor. Lagipula tim yang sudah siap-siap belum banyak. Hanya beberapa yang ikut di Piala Presiden. Jadi kami masih menunggu dari PSSI dan operator untuk kejelasan regulasinya dulu,” tuturnya.

Menjawab pertanyaan suporter mengenai persiapan tim yang selalu mepet setiap musim, ADK menilai operator kompetisi menurutnya akan bijak melihat kondisi masing-masing klub. Jika pertemuan manajer tim rencananya akan digelar pertengahan Februari, menurutnya terlalu berisiko jika operator memulai liga awal Maret seperti yang santer dikabarkan. “PSSI pasti berhitung. Tidak mungkin regulasi baru keluar terus kompetisi dijalankan. Tentu perlu memberikan waktu kepada klub siap-siap,” jelasnya.

Dengan kondisi seperti saat ini, dia mengatakan pelatih juga belum bisa memetakan kebutuhan tim. Seperti berapa pemain, karakternya seperti apa karena belum jelas apakah akan ada di wilayah barat atau timur jika nantinya terbagi menjadi dua. Terkait jumlah pertandingan dan tim-tim yang akan tergabung dalam wilayah tersebut.

Belum termasuk jika wacana Piala Indonesia digulirkan, hal itu membuat klub betul-betul menghitung anggaran dan jumlah pemain. Sebab klub akan bermain dalam dua kompetisi.

Kalau terkait pemain, jika betul tidak ada batasan usia malah akan banyak pilihan. Jadi kami tidak terlalu khawatir di situ. Akan kami pilih pemain yang siap berkompetisi dan sejauh ini banyak yang mulai menawarkan diri. “Artinya kami tidak mau berjudi dengan bentuk tim tapi regulasi belum jelas,” bebernya.

Dalam pertemuan tersebut, sesepuh PSIM yang juga mantan GM PSIM Syauqi Suratno mengatakan, sarasehan tersebut bukan media untuk pengambilan keputusan. Tapi bagus untuk manajemen mendengar masukan dari suporter. Hal itu agar beban yang dihadapi klub tidak semuanya ditanggung manajemen.”Semua pihak harus dilibatkan. Karena semuanya tentu masih memikirkan dan ingin membantu tim ini tetap bisa eksis berkompetisi. Apalagi PSIM belum menjadi PT, jadi tata kelolanya masih kultural,” ungkapnya. (riz/din/mg1)