GUNUNGKIDUL – Managemen RSUD Wonosari angkat bicara mengenai pelayanan tidak optimal gara-gara tidak ada dokter yang merawat pasien. Internal RS pelat merah ini Sabtu (20/1) menggelar pertemuan tertutup.

Inti dari pertemuan itu untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja semua tenaga medis dan paramedis, mengevaluasi pelaksana SOP (Standar Operasional Prosedur) yang sudah ada untuk meningkatkan mutu pelayanan.

Direktur RSUD Wonosari dr Heru Sulistyowati SpA mengatakan, rapat internal dilakukan untuk menanggapi pemberitaan SKH Radar Jogja edisi 20 Januari 2018 terkait pelayanan RSUD Wonosari ‘Tanpa Visite Dokter, Pasien Terlantar’.

“Penanganan pasien di bangsal rawat inap secara garis besar sudah dilakukan sesuai prosedur pengobatan atau terapi. Visite dokter merupakan salah satu mekanisme penanganan pasien dari beberapa mekanisme yang bisa dilakukan pada pasien yang menjalani rawat inap,”kata Heru Sulistyowati dalam pernyataannya kepada RadarJogja.

Dikatakan, selama ini RSUD Wonosari juga SOP pendelegasian ke dokter umum. Sudah ada jadwal visite dokter di hari libur selama sebulan ke depan (sehari tiga dokter). Selama libur tetap ada dua dokter.

“Jaga stand by selama 24 jam di Instansi Gawat Darurat yang dapat dihubungi oleh petugas jaga jika sewaktu-waktu dibutuhkan oleh pasien yang menjalani perawatan di bangsal,” ujarnya.

Khusus menanggapi pasien atas namaZetynia Purwaningtyas, 21, warga RT 09/13, Gadungsari, Wonosari, menurutnya intervensi medis telah dilakukan sepanjang perawatan. Baik berupa pemberian obat-obatan atau tindakan medis lain.

“Pada 27 Desember 2017 pasien di RSUD Wonosari telah divisite oleh dokter ahli yang bertugas,” ungkapnya. Hanya saja, pernyataan direktur RSUD Wonosari ini tidak menjawab pemberitaan yang menyebut selama tiga hari terhitung sejak 24-25 hingga Desember 2017 mengalami divisite dokter.

“Waktu itu pasien diputuskan untuk dirujuk ke rumah sakit lainnya setelah dikonsultasikan kepada dokter ahli yang menangani, dikarenakan komplikasi pada pasien yang sudah ada sebelumnya dan membutuhkan penanganan medis lebih lanjut,” ungkapnya.

Namun demikian, keterangan ini berbeda dengan statemen keluarga pasien yang sebelumnya menyebut, pemindahan pasien ke RS Panti Rapih bukan karena keputusan RSUD, melainkan inisiatif keluarga.

Kembali keterangan Heru, managemen RSUD Wonosari dikatakan telah melakukan audit internal dan akan terus melakukan evaluasi terhadap kinerja semua tenaga medis dan paramedis. Selain itu, mengevaluasi SPO yang sudah ada untuk meningkatkan mutu pelayanan.

“Terima kasih atas dimuatnya laporan kejadian layanan di RSUD Wonosari, sebagai bentuk kerja sama segenap pemangku kepentingan, demi perbaikan layanan di RSUD Wonosari,” tandas Heru.

Sementara itu, kasus dugaan penelantaran pasien di RSUD Wonosari ini menjadi perhatian Ikatan Dokter Indonesia (IDI) DIJ. Namun IDI masih menunggu proses internal yang sedang berlangsung di rumah sakit itu

“Sedang dibahas internal RSUD Wonosari. Semoga segera beres,” ujar Sekretaris IDI DIJ Dr dr FX Wikan Indrarto SpA Sabtu(20/1). Menurutnya, setiap kesalahan pasti mendapat sanksi sesuai dengan kesalahan masing-masing. “Tidak ada manusia yang sempurna, termasuk dokter,” sambungnya.

Wikan yang juga Ketua IDI Kota Jogja ini menambahkan, tujuan utama pemberian sanksi adalah melakukan pembinaan dan perbaikan kinerja selanjutnya. “Dengan demikian bentuk sanksinya sangat kasuistik,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DIJ Pembajun Setyaningastutie mengatakan pihaknya saat ini masih melakukan konfirmasi ke RSUD Wonosari dan Dinkes Gunungkidul. “Sekarang kami masih konfirmasi ke sana,” tuturnya. (gun/pra/laz/mg1)