Program Zero Halinar yang diluncurkan Karutan Kelas II B Wonosari Suherdi patut diapresiasi. Sebagai terobosan baru dalam upaya mencegah peredaran narkoba di dalam rutan maupun lapas. Sekaligus meminimalisasi tindak pelanggaran warga binaan maupun sipir.

Halinar merupakan kependekan dari handphone, pungutan liar (pungli), dan narkoba. Dengan begitu Zero Halinar diartikan sebagai program bebas handphone, pungli, dan narkoba di lingkungan rutan atau lapas. Program Zero Halinar dikawal Satgas Keamanan dan Ketertiban (Kamtib). Mereka dipilih di antara para sipir yang memiliki komitmen tinggi terhadap pelarangan peredaran barang terlarang di dalam rutan. “Dari 67 petugas ada 12 orang yang ditunjuk sebagai satgas,” jelasnya.

Satgas Zero Halinar bertugas memantau seluruh warga binaan dan petugas rutan yang berupaya menyelundupkan barang terlarang. Selain itu, mengimbau dan mengajak warga binaan untuk tidak melanggar aturan. Serta melakukan penggeledahan rutin maupun inspeksi mendadak di setiap sel tahanan maupun badan warga binaan. Jika ditemukan ada barang terlarang di dalam rutan, Satgas Kamtib pula yang berwenang memusnahkannya. “Barang terlarang itu bisa berupa obat – obatan terlarang maupun pakaian yang tidak pantas digunakan di rutan,” ujarnya.

Satgas juga berwenang mengoperasikan wartel khusus yang berbayar dan memeriksa setiap pengunjung yang membesuk tahanan. Penggeledahan juga berlaku bagi siapa pun yang akan masuk rutan. Tak terkecuali aparat kepolisian. “Makanya kami kerja sama dengan kepolisian. Supaya tidak menimbulkan gejolak saat penggeledahan. Sebab, penguatan internal itu penting sekali,” tegas Suherdi.

Pemeriksaan rutin dan insidentil terhadap warga binaan, pengunjung, maupun sipir juga diterapkan di Lapas Kelas II B Kota Magelang.

Selain digeledah, setiap pengunjung juga harus melintasi mesin X-ray. Keberadaan mesin sinar X untuk memastikan setiap pengunjung tidak membawa narkoba, senjata tajam, atau benda-benda terlarang lain. “Pemeriksaan rutin warga binaan seminggu sekali,” kata Kasubsi Registrasi Kelas II Kota Magelang Cahyo Sunarko.

Cahyo menegaskan, tak ada toleransi bagi pengunjung yang kedapatan membawa narkoba. Demikian pula warga binaan yang terlibat kasus peredaran narkotika. “Pasti kami sikat,” tegasnya.(gun/ady/yog/mg1)