SLEMAN – Dugaan penelantaran pasien tanpa visite dokter di Bangsal Mawar, RSUD Wonosari, pada 24-26 Desember 2017 mendapat tanggapan pengamat kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Dr Med dr Indwiani Astuti.

Indwiani menduga ada unsur kelalaian oleh dokter yang harusnya mendapat pendelegasian untuk bertugas di hari itu.

“Ini sangat fatal. Dalam satu rumah sakit tidak boleh semua dokter cuti. Setiap dokter harus menjalankan kewajiban, sebagaimana tertulis dalam undang-undang,” ujarnya, Minggu (21/1).

Pasal 51 Undang-Undang RI No 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran menyebutkan, dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan paktik kedokteran mempunyai kewajiban memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional, serta kebutuhan medis pasien. Selain itu, melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila dia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya.

Jika seorang dokter lalau menjalankan kewajiban tersebut, jelas Indwiani, berarti dia tidak memberikan hak yang seharusnya diterima pasien. Itu artinya, dokter yang bersangkutan tidak menjalankan amanah dalam profesinya secara baik. Bahkan, menurut Indwiani, bisa dikatakan tidak memiliki etika profesi.

Adapun tugas dokter rumah sakit, salah satunya, memeriksa pasien untuk mendiagnosis penyakit yang diderita secara cepat. Juga memberikan terapi secara cepat dan tepat.

Dalam kasus di RSUD Wonosari tesebut, Indwiani menduga, dokter yang seharusnya bertugas tidak sepenuhnya paham soal etika profesi yang berkaitan langsung dengan nyawa pasien.

“Diagnosis terhadap pasien tidak bisa diserahkan begitu saja kepada perawat,” tegas reviewer PKM pada Direktorat Kemahasiswaan, Kemenristek Dikti.

Diakui Indwiani, seorang dokter sarat dengan potensi konflik yang berhubungan dengan peran dan profesinya. Kendati demikian, Indwiani menegaskan, hal itu merupakan bagian dari ketentuan yang harus dilaksanakan.

Dicontohkan, peran seorang dokter yang juga sebagai ayah, suami, atlet, atau status sosial lainnya. Konflik seperti ini sangat berpengaruh dalam dunia kedokteran. Sebab, sakit dan kematian (pasien) tidak mengenal hari atau liburan. “Dokter mungkin terpaksa menangani keadaan gawat darurat setiap saat. Tapi itu tetap harus dijalaninya,” tegasnya.

Karena itulah, pihak rumah sakit harus kritis dalam menyikapi jadwal libur atau cuti dokter jaga maupun dokter praktik.

Sebagaimana diketahui, belakangan ini mencuat kabar adanya pasien penyakit dalam di Bangsal Mawar RSUD Wonosari yang tidak mengalami visite dokter selama tiga hari saat cuti bersama Natal 2017. Karena kondisi pasien bernama Zetynia Purwaningtyas itu makin memburuk, pihak keluarga pun akhirnya memutuskan memindahkan perawatan ke rumah sakit lain. Sementara manajemen RSUD Wonosari berdalih telah menjalankan standar operasional prosedur dengan menunjuk dua dokter umum selama cuti bersama Natal. Pemindahan pasien ke rumah sakit lain juga bukan atas inisiatif keluarga, tapi rujukan oleh dokter RSUD Wonosari yang melakukan visite pada 27 Desember 2017 dan berkonsultasi dengan dokter ahli. (ita/yog/mg1)