JOGJA- Kota Jogja diharapkan bisa belajar dari keberhasilan kota Wina Austria menjadi satu di antara 10 kota dengan kualitas hidup yang terbaik di dunia selama delapan tahun berturut-turut sejak 2011. Itu termasuk juga dalam hal tata kota yang merupakan kota lama nan istimewa.

“Ini penting bagi para arsitek belajar dari Wina dan berbagi pengalaman,” ujar Ketua Tim Juri Rancangan Proyek Penataan Kota Ikaputra.Dia mengatakan itu dalam pameran bertajuk “Jogja Vienna Young Architecture Exhibition” di Jogja Gallery. Pameran ini berlangsung 17- 30 Januari mendatang dan diselenggarakan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) DIJ dan Young Viennese Architects & Landscape.

Menurut dia dari pameran tersebut 70 persen dari 50 karya terpilih dirancang oleh Arsitek Muda Jogja. Mereka menyumbang gagasan tidak hanya untuk Jogja tapi juga kota – kota di Indonesia dan bahkan di luar negeri.

Meskipun begitu karya arsitektur yang ditampilkan harus memenuhi persyaratan pemikiran kembali nilai tradisional permukiman warga dengan mempertimbangkan alam tropis. Ikaputra menyebut seperti rumah kampung, home stay, konsep pekarangan dan gang kampung. Termasuk konsepsi rumah ibadah, hotel, taman, koridor hijau kota. “Juga terkait kepedulian terhadap masalah kaki lima, pejalan kaki, bangunan pusaka, kota ramah lingkungan, taman komunitas, dan lannya,” terang dia.

Menurut Ikaputra pameran karya arsitektur ini merupakan kiprah dan perwujudan dari berbagai pemikiran kreatif yang diungkapkan sebagai kontribusi demi terwujudnya kehidupan yang lebih baik. “Sekalipun mungkin masih berwujud gagasan yang belum terbangun namun sebagai karya arsitektur sudah dapat berkomunikasi,” tutur dia.

Panitia kegiatan Erlangga Winoto mengatakan sebanyak 50 karya yang terpilih dipamerkan bersama karya arsitek muda Austria yang memiliki kantor di Wina dan setidaknya satu karya terbangun di kota tersebut. Mereka diinisiasi dan didukung oleh Pemerintah kota Wina. “Panitia juga menyampaikan undangan kepada wali Kota Jogja dengan harapan rancangan terkait Jogja bisa dijadikan referensi dalam menata Kota Jogja,” terangnya.

Ketua IAI DIJ Ahmad Saifudin Mutaqi menegaskan ajang pameran arsitek seperti ini adalah cara elegan bagi arsitek profesional mengenalkan karyanya. Apalagi ketika dua negara dan kultur yang berdeda bertemu maka mereka bisa saling belajar tentang apa yang sama. “Di situ indahnya kebersamaan, yang bisa saling mengenal dan menyerap ilmu baru,” tuturnya. (pra/din/mg1)