Keteladanan para pemimpin dibutuhkan untuk mewujudkan cita-cita negara Indonesia merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur. Pancasila sebagai ideologi negara menjadi arah pergerakan kebangsaan Indonesia. Pemahaman dasar filosofis yang benar diperlukan agar bisa timbul satu kesadaran bersama.

Ajakan itu disampaikan Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto saat bertemu dengan berbagai elemen mahasiswa dalam Seminar Nasional “Pancasila, UU Ormas dan Demokrasi Kita” di kampus Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jalan Kapas Yogyakarta (20/1).

Dikatakan, mahasiswa sebagai kelompok terdidik berkesempatan turut membangun bangsa dengan cara dan semangat zaman masing-masing. “Ayo dari Yogyakarta kita bangun semangat bersama. Yogya sebagai pelopor Pancasila dengan menumbuhkembangkan semangat gotong royong,” kata Eko.

Seminar nasional itu diinisiasi Forum Badan Eksekutif Mahasiswa DIY. Kegiatan tersebut juga menjadi ajang musyawarah besar Forum BEM DIY. Dalam kesempatan itu dibacakan Deklarasi Sapta Cita oleh Ketua Forum BEM DIY Muhammad Fatah. Ada tujuh poin kesetiaan mahasiswa terhadap ideologi Pancasila.

“Berikan ruang bagi mahasiswa terus mengembangkan daya kritis dengan gaya masa kini,” lanjut Eko.

Dengan teknologi informasi yang berkembang cepat, mahasiswa bisa belajar Pancasila dari internet. Sekarang sudah bisa diunduh pidato Bung Karno tentang lahirnya Pancasila atau tulisan lain tentang Pancasila.

“Zaman saya dulu harus fotokopi. Sekarang kawan- kawan mahasiswa bisa mengakses melalui internet. Hobi membaca harus dikembangkan disertai diskusi yang produktif. Mahasiswa dan pemuda adalah calon pemimpin bangsa. Jadi kami dukung akses belajar Pancasila seluas luasnya,” ucapnya.

Secara khusus, Eko Suwanto menyatakan, perlunya peran media menjaga dan menyiarkan Pancasila sebagai landasan kebijakan publik. Perguruan tinggi diharapkan membantu pendidikan Pancasila dengan gaya “zaman now” dan menempatkan paradigma demokrasi sejatinya alat dan metode. “Dunia intelektual dan sikap kritis harus disikapi dengan biasa saja. Berikan ruang beda pendapat,” lanjut anggota DPRD DIY dari Fraksi PDI Perjuangan ini.

Wakil Rektor UAD Abdul Fadlil berharap mahasiswa bisa lebih berkembang dengan forum intelektual. “Ini proses mendewasakan diri kegiatan kemahasiswaan. Ada dialog dan silaturahmi antargenerasi,” ungkap Fadlil.

Lewat seminar nasional dan musyawarah besar Forum BEM DIY, diharapkan dapat menggaungkan semangat membangun dengan diwarnai nilai-nilai Pancasila.

Direktur Bina Ideologi Karakter dan Wawasan Kebangsaan Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri Prabawa Eka Susanta menyatakan, mahasiswa diharapkan memahami persoalan kebangsaan masa depan.

Pemahaman soal otonomi juga harus dipahami. Era sekarang tidak ada lagi sikap represif dari pemerintah karena demokrasi serba terbuka. Namun demikian, pemahaman demokrasi bukan berarti bebas tanpa batas.

Ada data menyebutkan nasionalisme di kalangan mahasiswa saat ini lemah. Masyarakat juga merasakan peran mahasiswa di lingkungan tempat tinggalnya sangat kurang.

“Ini menjadi tantanga semua mahasiswa agar bisa lebih berperan dan bermanfaat bagi masyarakat,” pinta Prabawa. (sce/kus/mg1)