Cara menikmati buah ini dengan mengambil seluruh isinya. Kemudian dimasukkan ke dalam gelas lalu diaduk dengan sedikit air, dan kemudian diminum.

Seorang pembudidaya buah gec Budi Kuncoro mengatakan, buah dengan ranting merambat ini dikembangkan di Desa Siraman. Dia tertarik untuk mengembangkankan setelah melihat dan mempelajari di internet. “Menurut penelitian buah ini memiliki anti oksidan puluhan kali dibandingkan buah lain. Bahkan mengurangi sel kanker,” kata Budi Kuncoro kemarin (19/1).

Buah yang julukan fruit from heaven sendiri belum banyak dikembangkan dan baru ada di wilayah Vietnam dan Thailand. Buah yang menurut para ahli memiliki kandungan vitamin A sepuluh kali dibandingkan wortel dan buah lain tersebut berwarna orange kemerahan. “Setengah liter jus setahu saya harganya Rp 150 ribu,” ujarnya.

Menurutnya tidak sulit mengembangkan buah gec. Selain aman dari serangan hama (kecuali) lalat, setiap kali menanam, cara mengembangkan juga mudah. Ditanam empat sampai lima pohon. “Karena untuk mendapatkan buah harus mengawinkan bunga jantan dan betina, dalam kondisi tepat, artinya bunga betina siap dibuahi demikian pula bunga jantan,” ucapnya.

Untuk menanam menggunakan biji, lalu diletakkan dalam wadah berisi air. Proses pertumbuhan sendiri bisa dipercepat dengan cara mengosok atau dikerik terlebih dahulu. Jika langkah demikian tidak dilakukan maka kecambah baru bisa muncul 6 bulan kemudian. “Kami bersyukur selama ini sudah berbuah hingga puluhan butir, namun belum dijual umum,” kata tenaga harian lepas (THL) Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul itu.

Ke depan, dia bertekad akan terus mengembangkan. Tidak menutup kemungkinan jika hasil panen memuaskan areal diperluas. Harapannya hasil dapat maksimal dan bisa berfikir untuk dilakukan pemasaran.

Sementara itu, salah satu warga, Yusuf Adhitya mengaku baru pertama kali melihat buah gec. Jika dilihat dai luar bentuknya sangat unik dan sepertinya lezat. Oleh sebab itu pihaknya sengaja datang untuk melihat langsung. “Rasanya hambar, sedikit ada rasa kecut. Terasa beda di lidah ini pengalaman baru bagi saya,” kata Yusuf. (din/mg1)