MAGELANG bisa menjadi rujukan mengisi akhir pekan. Wisata museum merupakan alternatif mengisi waktu senggang tersebut.

Sejarah panjang republik ini tersimpan rapi di museum. Mulai singgahnya Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman, hingga awal mula berdirinya Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Ada juga sejarah berdirinya Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera sejak sebelum Kemerdekaan. Selain itu, ada juga museum Abdul Djalil, Widayat, OHD.

Museum Pangeran Diponegoro di Kompleks Bakorwil Kedu Cacaban Kota Magelang. Di sana tersimpan cerita tentang perjalanan Pangeran Diponegoro yang dibingkai pada sebuah Kamar Diponegoro.

Terdapat meja kursi dan lampu kuno. Disertai tempat peristirahatan di sudut ruangan. Masih dilengkapi ornamen bangunan kuno era kolonial. Kamar Pangeran Diponegoro terdapat di ujung bangunan depan.

Wisatawan juga bisa berkunjung ke Museum Bumiputera di Jalan A Yani, Kota Magelang. Museum ini menceritakan perusahaan asuransi ini berdiri.

Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 memulai usahanya tanpa dukungan modal. Tumbuh dan berdiri kokoh sebagai perusahaan asuransi nasional.

Dari modal awal nol sen pada ulang tahunnya yang ke-85, 12 Februari 1997, aset Bumiputera telah mencapai Rp 1,8 triliun. Jumlah pemegang polis peserta asuransi 4,7 juta orang.

AJB Bumiputera 1912 atau lebih dikenal dengan sebutan “Bumiputera” lahir dari haribaan pergerakan kemerdekaan Boedi Oetomo di Magelang 12 Februari 1912. Sejarahnya digoreskan M Ngabehi Dwi Dwidjosewojo, MKH Soebroto dan M Adimidjojo.

Ketiga pejuang yang berprofesi guru itu masing-masing menjabat Komisaris Direktur dan Bendahara pada awal berdirinya Bumiputera. Lalu R Soepadmo dan M Darmowidjojo (keduanya guru Sekolah Rakyat) bergabung bersama ketiga pendiri lainnya. Mereka tercatat sebagai Pemegang Polis pertama.

“Perjalanan kantor Bumiputera sudah sejak zaman sebelum kemerdekaan,” ungkap Subronto, pegawai museum Bumiputera.

Sedangkan Museum BPK ada di Jalan P Diponegoro, Kota Magelang. Gedung ini meliputi beberapa ruangan besar dengan penamaan tersendiri. Dalam beberapa ruangan besar tersebut ada ruang ruang kecil, disekat dengan partisi.

Dimulai dari lobi sebagai pintu masuk ke museum. Kemudian berturut-turut Ruang Audio Visual Ruang Wajah BPK, Ruang Titik Nol, Ruang BPK, dan Ruang Rekam Jejak. Ruangan tersebut adalah Museum BPK.

“Museum BPK menampilkan perjalanan BPK dari tahun ke tahun,” jelas Yuni, pengelola museum.

Museum BPK terdapat Kids Museum, ruang perpustakaan, storage dan konservasi. Lalu ada ruang temporary exhibition, toko suvenir serta kafetaria.

“Tidak dipungut biaya untuk masuk museum. Gratis,” kata Yuni. (ady/iwa/mg1)

(GRAFIS: HERPRI KARTUN – LAYOUT: RYGEN K. YUDHA/RADAR JOGJA)