KARANGANYAR – Lama tak tersiar kabarnya, proses persidangan enam terdakwa kasus Diklatsar Mapala Universitas Islam Indonesia (UII) Jilid II di Pengadilan Negeri (PN) Karanganyar, Jawa Tengah, memasuki babak baru. Jumat(19/1) jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Karanganyar menuntut para terdakwa dengan hukuman maksimal tujuh tahun penjara.

Adapun enam terdakwa kasus penganiayaan dalam The Great Camp (TGC) Diklatsar Mapala UII pada 14-20 Januari 2017 tersebut antara lain, Tubagus Noviandaru, Reski Fadliansyah, Tan Anugrah Ramadani, Dicky Kurniawan, Hasrul Sandy, dan Nurain Igirisa.

Polres Karanganyar menetapkan mereka sebagai tersangka pada 9 Mei 2017 atas dugaan penganiayaan yang menyebabkan tiga peserta diklatsar meninggal dunia. Penetapan keenamnya sebagai tersangka berdasarkan pengembangan penyidikan dan diperkuat oleh vonis PN Karanganyar pada 28 September 2017 terhadap dua terdakwa lain, yang sama-sama sebagai panitia diklatsar. Yakni Wahyudi alias Kresek dan Angga Septiawan. Keduanya masing-masing diganjar hukuman 6 tahun dan 5,5 tahun penjara dipotong masa penahanan.

Usai sidang kemarin Kepala Kejari Karanganyar Suhartoyo mengatakan, tuntutan maksimal tujuh tahun penjara bagi keenam terdakwa tersebut bukan tanpa alasan. Menurutnya, keenam terdakwa yang salah satunya perempuan, terbukti secara sah dan meyakinkan telah melanggar pasal 351 ayat (3) jo pasal 55 ayat (1) ke 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Hal itu berdasarkan fakta-fakta selama persidangan.

Kasi Pidana Umum Kejari Karanganyar Tony Wibisono menambahkan, seluruh unsur pidana yang didakwakan kepada keenam terdakwa tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam pasal 351 jo pasal 55 telah terpenuhi.

“Keenam terdakwa memberikan hukuman kepada peserta diklatsar di luar standar operasional prosedur. Sehingga mengakibatkan tiga peserta meninggal dunia dan beberapa peserta lainnya mengalami luka,” papar Tony.

Melihat klausul tersebut, Tony menegaskan, unsur menyebabkan matinya orang lain telah terbukti secara hukum. Itu sekaligus menjadi hal-hal yang memberatkan bagi para terdakwa di persidangan. Sementara hal yang meringankan karena mereka masih muda dan belum pernah dihukum.

Usai pembacaan tuntutan oleh JPU, Ketua Majelis Hakim Nunik Sri Wahyuni menunda sidang hingga Rabu (24/1) dengan agenda mendengarkan pembelaan (pledoi) dari kuasa hukum para terdakwa.

Sebagaimana diketahui, tragedi TGC Diklatsar Mapala UII yang digelar di Dusun Tlogodlingo, Gondosuli, Karanganyar awal Januari 2017 menyebabkan tiga peserta meninggal dunia. Mereka adalah Muhammad Fadli, 20, asal Batam; Syaits Asyam, 20, Sleman; dan Ilham Nurpadmy Listia Adi, 20, Lombok Timur. Ketiganya mahasiswa UII angkatan 2015. Diklatsar diikuti 37 peserta. Tiga di antaranya perempuan.(rud/yog/jpg/mg1)