BANTUL – Bukan hanya SD Seropan, sejumlah sekolah yang terdampak bencana banjir akhir pekan lalu seperti SMP 1 Kretek, SMP 2 Pajangan, SMP 2 Imogiri, dan SMP 3 Imogiri bakal ditangani tahun ini.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul Didik Warsito menyebut anggaran sebesar Rp 3,5 miliar dialokasikan untuk perbaikan berbagai sekolah.

“Sudah masuk APBD 2018,” tegas Didik di sela pemberian dana bantuan pembangunan SD Dodogan, Jatimulyo, Dlingo, kemarin (17/1).

Didik mengakui anggaran perbaikan sejumlah sekolah pascabencana ini semula tidak dianggarkan. Untungnya, evaluasi gubernur atas APBD 2018 mengamanatkannya. Didik merinci sebagian besar anggaran ini diproyeksikan untuk pembangunan SD Seropan. Mengingat, bangunan sekolah yang terletak di lereng perbukitan ini hampir roboh sehingga harus dipindah. Ini menyusul munculnya titik-titik rekahan di sekitar sekolah.

“Rp 2,55 miliar untuk mendirikan bangunan baru,” ucapnya.

Bekas Kepala DPPKAD ini menargetkan pembangunan SD Seropan digarap secepat mungkin. Targetnya, satu ruangan baru dapat dimanfaatkan pada bulan Mei. Agar siswa kelas VI dapat menghadapi ujian dengan tenang.

Dalam kesempatan itu, Didik juga menyebut anggaran Rp 3,5 miliar juga dialokasikan untuk pengadaan berbagai buku ajar dan komputer. Sebab, buku ajar dan komputer beberapa sekolah tidak dapat diselamatkan saat bencana banjir. “Komputer SMP 2 dan SMP 3 Imogiri terendam banjir semua,” katanya.

Menurut Kepala Sekolah SD Seropan Wagiran, bangunan SD Seropan baru bakal berdiri di atas tanah kas desa Muntuk. Letaknya di Dusun Seropan 3 atau sekitar satu kilometer dari bangunan lama. “Berbagai dokumen pembangunan sudah siap,” ujarnya.

Kendati ada angin segar, Wagiran berharap lokasi kegiatan belajar mengajar (KBM) sementara lebih representatif. Saat ini, KBM SD Seropan digelar di dalam tenda. Minimal penambahan unit shelter. Shelter yang rencananya disediakan hanya mampu dipisah menjadi tiga ruangan.

Sementara, jumlah siswa SD 122 anak dan tenaga pengajar sebanyak 15 orang. Akibatnya, sebagian siswa terpaksa belajar di luar ruang kelas. “Toilet juga masih ada satu. Siswa banyak numpang di rumah warga sekitar,” tuturnya. (zam/ila/ong)