SLEMAN – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkab Sleman kembali menertibkan reklame. Kali ini operasi menyasar Kecamatan Ngaglik, Pakem, dan Depok. Setidaknya ratusan reklame berhasil diturunkan selama tiga hari operasi ini.

Komandan Regu Lapangan Satpol PP Sleman Surono menuturkan, pihaknya menjalankan implementasi Perda Nomor 14 Tahun 2003 tentang Pajak Reklame. Diperkuat dengan Peraturan Bupati Nomor 53 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Reklame.

“Dimulai dari Senin (15/1) di Ngaglik bisa menurunkan 30an reklame. Lalu hari kedua juga dengan jumlah yang sama. Kalau di Depok ini mungkin lebih banyak karena cukup ramai,” jelasnya saat menurunkan reklame di Jalan Affandi, Caturtunggal, Depok,Rabu (17/1).

Dia menjelaskan, pelanggaran berupa pemasangan tanpa izin. Terlebih lokasi pemasangan membentang di tengah jalan. Dalam aturan baku sendiri jelas ditulis pelarangan reklame yang menjorok ke arah jalan.

Pelanggaran reklame diakui olehnya sebagai masalah klasik. Jika pada pagi atau siang hari ditertibkan, maka malam hari terpasang kembali. Menurutnya, para pemasang kerap kucing-kucingan saat pemasangan.

“Konstruksi melintang jalan pakai tali tetap tidak boleh. Dalam aturan sudah dijelaskan, titik-titik mana saja yang diperbolehkan. Memang kerap kucing-kucingan, tapi kami setiap bulan selalu lakukan operasi pencopotan,” ujarnya.

Kawasan Jalan Affandi di Kecamatan Depok menjadi sarang terbesar dari sampah visual. Sebelumnya Satpol PP Sleman juga telah menertibkan delapan baliho raksasa. Dalam kesempatan ini dia mengimbau masyarakat untuk melapor, terlebih pemasangan reklame di tengah jalan jelas menyalahi aturan. Laporan bisa ditujukan kepada Satpol PP Sleman dan Badan Keuangan dan Aset Daerah Sleman.

“Paling banyak memang di Depok khususnya Caturtunggal. Warga lapor saja jika melihat ada pelanggaran. Ke depan kami juga akan membersihkan yang terpasang di pohon,” tegasnya.

Terpisah Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan Terpadu (DPMPPT) Sleman Triyana Wahyuningsih memastikan pemasangan reklame menyalahi aturan. Selain tidak berizin, juga menghindari pembayaran pajak.

Nana, sapaannya, menuturkan ketegasan Perbup Sleman Nomor 53 Tahun 2015 sangat jelas. Reklame dengan tali sama halnya dengan baliho di median jalan. Pertimbangan lain merusakan keindahan tata kota karena dipasang secara serampangan. (dwi/ila/ong)