JOGJA – Profesi Pemungut Pajak Rumah Tangga (PPRT) di Jogja tidak akan ditemukan lagi. Hal ini karena sang pemilik profesi, Sujud Sutrisno atau yang dikenal dengan Sujud Kendang Tunggal, meninggal dunia di RS Jogja Senin (15/1) dalam usia 64 tahun.

Rencananya jenazah Sujud dimakamkan Selasa (16/1) di pemakaman umum Tompeyan, Tegalrejo, Jogja, pukul 13.00. Jenazah akan diberangkatkan dari rumah duka, Badran RT 51RW 11, Bumijo, Jetis, Kota Jogja.

Menurut istri Sujud, Mamik Sumaryati, suaminya sudah dua minggu dirawat di RS Jogja karena keluhan sakit batu empedu yang dirasakan beberapa tahun terakhir. Hasil rontgen menunjukkan ada batu empedu 0,5 sentimeter di tubuh Sujud.

“Sudah jadi pecahan, beberapa sudah dikeluarkan,” ujar Mamik ketika ditemui di kamar jenazah RS Jogja, kemarin (15/1). Penyakit Sujud itu memang sudah dideritanya sejak lama dan membuatnya sering keluar masuk RS. Bahkan ketika baru keluar RS pada September 2017, Sujud sempat dikabarkan meninggal.

Diakui Mamik, kabar itu sempat membuat kondisi Sujud drop. “Pernah dua kali dikabarkan meninggal. Dulu saat kerja dikabarkan meninggal, kemarin baru keluar RS dikabarkan meninggal lagi,” tuturnya.
Mamik yang menikah dengan Sujud pada 2009 itu mengatakan, setelah Lebaran lalu kondisi suaminya makin menurun akibat penyakitnya.

Tapi pada Desember, Sujud sempat memenuhi undangan manggung dari salah satu bank BUMN di UGM. Setelah itu, kondisi Sujud kembali menurun hingga dibawa ke RS Jogja pada 2 Januari lalu.

Eni Purnamawati dari Bagian Humas RS Jogja menerangkan, Sujud masuk RS Jogja awal Januari ini. Sempat dirawat di bangsal, kemudian dipindah ke ICU saat kondisinya menurun dan dipindah lagi ke bangsal setelah membaik.

“Beberapa kali memang dipindah ke ICU karena butuh perawatan intensif,” ujar Eni yang enggan menjelaskan diagnosa penyakit Sujud. Mamik mengisahkan, pada minggu malam, Sujud sudah mengeluh tidak kuat dan meminta agar didatangkan Pendeta Naftali Simpson dari Gereja Kemah Injil Indonesia Badran.

Diketahui Sujud jemaat di gereja itu. Tapi Pendeta Naftali bisa datang pada Senin pagi. Saat itu Sujud sempat dinyatakan meninggal pada pukul 08.00, tapi jelas Pendeta Naftali, ketika dibantu alat pernapasan bisa bernapas kembali. Setelah itu kondisi Sujud kembali menurun.
“Ketika saya bisikan ‘Saya sudah di sini’, Pak Sujud langsung diam sampai dinyatakan meninggal pukul 12.20,” jelas Pendeta Naftali.

Sebagai seorang pendeta, Naftali mengenang Sujud sebagai orang yang rajn beribadah. Termasuk saat sakit Sujud sering mendatanginya minta didoaakan. Sedang saat menjalankan profesinya sebagai PPRT, Naftali menilai Sujud sebagai pekerja seni yang tidak sekadar mencari keuntungan. “Seni yang menghibur, mencari teman dan tidak sekadar meraup keuntungan,” tuturnya.(pra/laz/ong)