JOGJA-Tangis Mamik tidak terbendung ketika jenazah suaminya, Sujud, dimasukkan dalam peti jenazah. Mamik pun harus ditenangkan oleh jemaat Gereja Kemah Injil Indonesia Badran yang mendampingi di ruang jenazah RS Jogja.

Tapi, sebelumnya Mamik masih tegar dan sempat mengisahkan perjalanan hidupnya dengan sang PPRT. Menurut dia, hingga akhir hayatnya Sujud masih memiliki utang pada istrinya yang belum bisa ditunaikan.

Sujud belum bisa membuatkan toko kelontong di rumahnya di Badran untuk usaha istrinya. “Dulu Pak Sujud pernah ngomong mau membahagiakan istrinya dengan membuat toko kelontong di rumah. Ttapi hingga meninggal, belum terwujud,” ujar Mamik.

Pernikahannya dengan Mamik merupakan yang kedua bagi Sujud setelah istri pertamanya meningal. Dari dua kali pernikahannya itu Sujud tidak dikaruniai anak. Mamik mengetahui Sujud sebagai pemain kendang sejak usia sembilan tahun.

Selama karirnya, Sujud juga diketahui hanya memiliki dua kendang saja. Satu kendang yang biasa dipakainya sehari-hari dan satu kendang baru yang dibelinya sendiri. “Tapi kendang yang baru jarang dipakai, katanya lebih berat karena terbuat dari kayu jati,” ungkapnya.
Mamik yang dinikahi Sujud pada April 2009 ini mengenang suaminya sebagai pekerja keras. Awalnya, Mamik bekerja di penjual minyak yang ternyata saudara Sujud. “Dari sering ngobrol akhirnya jadi istri,” ungkapnya.

Soal kesehariannya, Sujud dikenal sebagai penggemar tongseng dan durian. Bahkan sewaktu sakit pun ia bisa menghabiskan empat durian dalam dua hari. “Terakhir minta dibelikan jerukBalidan es degan, tapi belum sempat dibelikan,” ujarnya sedih.

Perempuan berusia 66 tahun ini mengatakan, selain mengamen, Sujud juga memenuhi panggilan tampil di berbagai acara. Saat mau pentas pun Sujud tidak pernah kaku memasang tarif. Meski tarif manggung biasanya Rp 1 juta-Rp 1,5 juta, jika ada yang menawar lebih murah pun ia menyanggupinya. “Kalau semisal yang punya hajat hanya punya Rp750 ribu, Pak Sujud tidak masalah,” tuturnya.

Meski Sujud sudah melanglang buana hingga ke beberapa negara, tidak menjamin mereka hidup sejahtera. Hingga akhir hayatnya Sujud tinggal di rumah peninggalan orangtuanya di Badran. Untuk keperluan sehari-hari, setelah Sujud dirawat di rumah sakit, Mamik mengaku mengandalkan bantuan dari rekan dan seniman Sujud, yang totalnya mencapai Rp30 juta. “Untuk biaya rumah sakit tidak bayar, karena pakai BPJS. Kalau keperluan pemakaman sudah dibantu gereja,” kata Mamik. (pra/laz/ong)