Salah Prosedur Mbalela Kambing Hitam, Aman Terkendali

Ada-ada saja ulah para seniman ini. Dan yang lebih mengada-ada adalah panitianya. Dalam lomba masak nasi goreng tadi malam, setiap karya peserta yang semuanya seniman, mendapat label berdasarkan rasanya. Bagaimana kemeriahannya?

VITA WAHYU HARYANTI, Jogja
Jangan kaget jika istilah-istilah yang kerap terdengar di era Orde Baru bermunculan di tengah acara bertajuk “Lomba Masak Lima Belas Januari (Malari)” yang dihelat di XT Square, Jogja kemarin (15/1). Istilah Malari sendiri sejatinya plesetan dari peristiwa 15 Januari 1974 yang juga dikenal dengan sebutan Malari, yang merupakan kependekan dari Malapetaka Limabelas Januari. Itu adalah demonstrasi mahasiswa menolak pinjaman modal asing di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, yang berbuntut kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan.

Itu jauh beda dengan Malari-nya para seniman Jogja ini. Yang penyelenggaraannya justru untuk memupuk kebersamaan dan persaudaraan. Khususnya di antara seniman dan budayawan. Kegiatan itu juga dimaknai sebagai respons atas Malari 1974, namun dengan cara beda dan dikemas jenaka.

Tak ayal, muncullah aneka label masakan nasi goreng karya peserta. Seperti hasil masakan musisi Ari Wulu yang ditahbiskan sebagai nasi goreng (nasgor) Salah Prosedur. . “Artinya, nasi goreng buatan Ari paling tidak pas di lidah. Atau semacam ada kesalahan dalam prosedur memasaknya,” kata Ketua Panitia Widihasto Wasana Putra di atas panggung sambil terpingkal.

Sementara label untuk nasgor-nasgor lain tak kalah unik. Seperti Mgalela, Nepotisme, Isih Penak Zamanku Tho, Subversif, Kambing Hitam, Aman Terkendali, GBHN, Darah Juang, hingga Azas Tunggal.

“Kenapa lomba memasak? Karena menurut kami kuliner bisa menjadi salah satu penanda yang khas sebuah daerah bahkan merepresentasikan suatu peradaban manusia,” kata Hasto, sapaan akrabnya. “Menu nasi goreng sendiri menjadi makanan paling populer di Indonesia dan tidak membutuhkan waktu lama dalam proses memasaknya,” lanjutnya.

Para peserta tetap tampak serius saat berada di balik penggorengan. Mereka memastikan setiap bumbu yang diracik berasa pas jika dipadu dengan nasi dan uba rampe lainnya. Mereka juga harus memastikan api menyala sempurna supaya masakan benar-benar masak dengan bumbu yang meresap. Sebab, mereka memasak tidak memakai kompor, melainkan anglo berbahan bakar arang kayu.

Yang membikin suasana terkesan santai adalah busana yang dikenakan para seniman. Ada yang mengenakan kostum super hero Superman hingga baju berbahan daur ulang.

Hasilnya, semua masakan enak. Itulah kesan GKBRAy Paku Alam X yang bertindak sebagai dewan juri. Bahkan, istri Wagub DIJ Paku Alam X itu mengaku kesulitan menentukan pemenang yang telah tersaring menjadi 10 nominasi. “Ternyata para seniman dan budayawan pun pantai memasak. Rasanya tak kalah dengan nasi goreng restoran,” pujinya.

Para peserta memperebutkan hadiah uang jutaan rupiah. Namun jangan disangka hadiah itu berupa uang nontunai yang langsung ditransfer lewat rekening bank. Atau uang kertas yang dikemas dalam amplop. Tapi berupa uang lobam recehan dalam pecahan Rp 500. Hadiah diberikan bagi 10 nominator yang masing-masing mendapat label nama unik untuk nasgor mereka.

Pelawak senior Yati Pesek yang turut ambil bagian dalam ajang ini menyiapkan bumbu sederhana untuk nasgor pedasnya. Bagi Yati, tak ada istilah kalah atau menang. “Yang penting guyub gayeng bareng teman-teman seniman dan budayawan,” tutur pelawak yang menamakan kelompok masaknya “Pathak Warak”.

Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Umar Priyono sangat antusias menyambut acara itu. Bahkan, Umar berharap acara masak seniman dan budayawan bisa menjadi agenda tahunan. Untuk mengangkat kearifan lokal melalui kuliner asli Indonesia, khususnya menu khas Jogjakarta. (yog/ong)