KULONPROGO – Alih-alih meninggalkan rumah, warga penolak bandara justru bertanam di lahan yang telah diratakan. Mereka tergabung dalam Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulonprogo (PWPP-KP).

Tetap konsisten menolak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA). Apalagi, mereka didukung aktivis antipenggusuran.

Penanaman pohon dilakukan di lahan yang telah diratakan PT Angkasa Pura (AP) I. Aksi tersebut dilakukan dua hari hingga Minggu (14/1).

“Ini bentuk protes kami (warga dan relawan). Karena beberapa hari lalu lahan kami telah dirusak AP I. Aksi dilakukan sejak Sabtu (13/1),” kata koordinator aksi Ardy Syihab.

Dia mengatakan seluruh lahan milik warga penolak bandara yang telah diratakan AP I akan diperbaiki dan ditanami lagi. Baik di Desa Palihan dan Desa Glagah.

Kata Ardy, mereka juga memperbaiki akses jalan yang diputus AP I. Jalan tersebut merupakan akses utama warga penolak bandara untuk beraktivitas.

“Relawan membantu warga (penolak bandara) secara penuh. Penanaman dan perbaikan ini bentuk protes kami tanpa harus berorasi,” kata Ardy Syihab.

Fajar Ahmadi, 44, warga Pedukuhan Kragon II, Desa Palihan mengatakan aksi ini sekaligus menepis tudingan relawan adalah provokator. “Mereka peduli warga (penolak bandara),” kata Fajar.

Aksi serupa akan terus dilakukan sebagai jawaban atas perusakan lahan milik warga penolak bandara yang masih berstatus hak milik. Dengan bertani dan menanam, warga akan terus hidup dan melawan.

“Robohnya pohon-pohon itu bukan berarti kami menyerah. Jika nanti land clearing lebih nekat, maka kami juga akan lebih semangat menanam. Bertani adalah mata pencaharian kami,” ujar Fajar. (tom/iwa/mg1)