JOGJA – Pengaruh buruk keberadaan kafe dan toko yang menjual minuman beralkohol (mihol) di kawasan Prawirotaman Jogja dirasakan penjaga sekolah di SD Timuran Mergangsan Jogja Sugeng Suprihatin. Menurut dia hampir setiap pagi menyapu pecahan botol mihol di depan sekolah.

“Setiap pagi sebelum anak-anak masuk sekolah harus saya bersihkan dulu, pecahan botol dibuang di depan sekolah kan tidak baik dilihat anak-anak,” ujar Sugeng ketika ditemui Sabtu (13/1). SD Timuran yang berada di ujung barat jalan Prawirotaman tersebut memang dikelilingi oleh kafe dan toko yang menjual mihol. Hal itu dibuktikan dengan razia gabungan Polresta Jogja dan Satpol PP Kota Jogja pada 3 Januari lalu yang menyita 2.081 botol mihol.

Sugeng mengisahkan sejak kafe baru bermunculan setahun terakhir ini makin sering ditemui pecahan botol mihol maupun orang klereran mabuk tidur di jalan. Bahkan hingga jam masuk sekolah pukul 07.00 di sepanjang jalan menuju sekolah sering ditemui orang mabuk yang tiduran di jalan. “Pasti jadi rasan-rasan orang tua siswa, tapi ya seperti itu harus sambat kemana,” ujarnya bingung.

Menurut dia meski dikenal sebagai tempat berkumpulnya wisatawan mancanegara, tapi dari pengalamannya selama ini justru yang sering mabuk di sana warga lokal. “Seringnya orang dari (Indonesia) timur,” ujarnya. Saat mabuk, lanjut Sugeng, mereka juga sering berulah dengan berbuat onar. “Kalau ribut tidak kenal waktu, kadang sampai subuh masih ada yang teriak-teriak,” tambahnya.

Sugeng menambahkan di kawasan Prawirotaman tidak hanya kafe dan toko saja yang menjual mihol. Menurut dia toko kelontong diketahuinya juga menjual mihol yang pembelinya kebanyakan warga lokal. “Ada warung yang sering dirazia, tapi besoknya bisa jualan lagi,” ungkapnya.

Pengalaman Sugeng tersebut sama dengan yang disampaikan perwakilan warga Mergangsan dan Mantrijeron Jogja yang tergabung dalam Aliansi Umat Islam Mergangsan-Mantrijeron yang Jumat lalu (12/1) mendatangi Balai Kota Jogja. Menurut Ketua Aliansi Umat Islam Mergangsan dan Mantrijeron Herry Krishnamurti,

warga sekitar sudah merasa tidak nyaman dengan aktivitas penjualan mihol di sana. “Pagi hari mau berangkat ke pasar di jalan bergeletakan orang mabuk, untuk berjalan warga harus memutar, itu kan sudah mengganggu kenyamanan,” ujarnya.

Terpisah Kepala Bidang Penegakan Peraturan Perundang-Undangan Satpol PP Kota Jogja Christina Suhantini mengatakan hasil razia 3 Januari lalu juga menemukan lima kafe di Prawirotaman yang belum memiliki tanda daftar usaha pariwisata (TDUP). Dari lima pemilik kafe yang dipanggil, dua bisa menunjukkan TDUP, dua lainnya belum datang dan satu dalam proses persidangan. “Sidangnya kapan saya belum tahu, yang dua belum datang kita panggil lagi,” ujarnya. (pra/mg1)