SALAH satu kerusakan infrastruktur dampak badai siklon tropis Cempaka terlihat di bantaran Sungai Oya. Banjir yang melanda kawasan tersebut mengakibatkan tebing talud tergerus hingga mengenai permukiman warga. Sepuluh rumah di RT 06 Dusun Wunut, Sriharjo, Imogiri yang ada di kawasan tersebut terancam ambruk. Bahkan, sejak Sabtu (13/1) seluruh penghuni lima rumah di antaranya telah dievakuasi. Keretakan tanah yang menggerus bantaran terus melebar.

Dukuh Wunut Sugiyanto mengungkapkan, tebing bantaran setinggi tujuh meter longsor terus-menerus pascabencana banjir akhir tahun lalu.Tingkat kerusakannya makin parah sejak tiga hari terakhir akibat hujan deras yang mengguyur wilayah DIJ Kamis (11/1).

“Tadi pagi (Minggu, Red) longsor lagi,” jelas Sugiyanto saat meninjau lokasi longsor Minggu (14/1).

Longsor ini memicu jarak antara sungai dan permukiman kian dekat. Bahkan, jarak sungai dengan dua rumah di RT 06 hanya tinggal sekitar tiga meter. Sugiyanto menceritakan, jarak antara sungai dan rumah warga sebelum bencana banjir sekitar 25 meter. Pascabencana menjadi sekitar 5 meter. Area pertanian dan lapangan bola voli yang dulunya berada di pinggiran sungai (di bawah tebing) hilang. Menjadi aliran sungai. “Sekarang tinggal tersisa sekitar tiga meteran,” sebutnya.

Dari pantauan, longsor selebar 20 meteran juga memicu akses jalan yang menghubungkan Sriharjo dan Mangunan, Dlingo terputus. Ruas jalan tersisa sekitar setengah meter. Padahal, semula sekitar empat meter. Nah, dua rumah terdekat dengan sungai persis di pinggir jalan tersebut.

Kendati ada sepuluh rumah yang terancam, Sugiyanto menyebut baru ada lima kepala keluarga (KK) yang dievakuasi. Ada 19 jiwa yang dievakuasi ke wilayah RT 04. Persisnya di rumah orang tua ketua RT 04. “Lima rumah lainnya berstatus siaga,” ujarnya.

Sugiyanto menyadari, warga di Dusun Wunut, khususnya RT 06, tinggal di wilayah rawan longsor dan banjir. Kendati begitu, Sugiyanto menekankan, warga RT 06 berharap dapat hidup kembali seperti sedia kala alias tidak direlokasi. Alasannya, nenek moyang mereka juga tinggal di situ. Untuk itu, Sugiyanto meminta pemerintah turun tangan melakukan perbaikan. “Paling tidak membangun bronjong dan talud baru,” pintanya.

Harapan senada disampaikan Wakimin, 51. Kendati rumahnya tinggal sekitar tiga meter dari bibir sungai ini berharap tidak direlokasi. Bapak satu anak ini berharap pemerintah membangun bronjong dan talud baru. “Saya lahir di sini. Mbah-mbah saya juga hidup di sini,” katanya.

Guna mengantisipasi longsor kian parah, Wakimin kemarin membongkar rumahnya. Juga rumah anak tunggalnya, Hediyanti. Dibantu sejumlah warga, kontruksi atap rumah bercat merah muda tersebut dibongkar. Berbagai barang berharga diselamatkan.

“Pindah ke rumah kerabat di RT 04 (Dusun Wunut),” tambah pria yang sehari-hari bekerja sebagai penjual keliling makanan ringan ini.

Selain di Dusun Wunut, 12 rumah di Desa Selopamioro juga terdampak abrasi. Bahkan, lima di antaranya telah hanyut terbawa banjir akhir November 2017 lalu. Sama seperti di Dusun Wunut, talud dan bronjong di Desa Selopamioro, persisnya di Dusun Siluk, terus-menerus mengalami longsor.

“Jaraknya tinggal beberapa meter sekarang,” ucap Ruji, seorang warga RT 01 Dusun Siluk.(zam/yog//mg1)