ERA yang makin global membuat kesempatan untuk bertemu orang asing pun makin wajar dan terbuka lebar. Tapi, sayangnya, sebagian masyarakat Indonesia justru “nggak siap” dan punya culture shock yang cukup tinggi. Iya, masih banyak yang takjub dan cenderung “kaget” saat bertemu bule. Beberapa bahkan melakukan hal-hal yang cukup frontal buat menunjukkan ketakjubannya. Nah, buat mencari tahu tingkat culture shock orang Indonesia, tim Zetizen melakukan investigasi langsung dengan mengadakan social experiment nih.

Kami mengajak tiga bule dari tiga negara berbeda buat jalan-jalan di sebuah mal di Kota Surabaya. And guess what, beragam reaksi yang didapat ternyata cukup membuktikan tingkat gegar budaya masyarakat kita yang masih tinggi. Padahal, reaksi-reaksi itu justru bisa bikin sebagian bule merasa nggak nyaman loh. So, sebelum kita dianggap mengganggu, better mulai kurangi deh kebiasaan-kebiasaan berikut ini. Lets be cool and ready to face the global era karena bule juga orang biasa! (irm/c22/mg1)

Lihat, Tunjuk, Kasakkusuk

Baru aja tiga bule yang diajak tim Zetizen melangkahkan kaki di lobi mal, indikasi gegar budaya (culture shock) para pengunjung udah super kelihatan. Percaya atau nggak, ke mana pun si bule melangkah, literally hampir tiap mata selalu memandangi mereka. Mulai lirik-lirik sampai yang terang-terangan menoleh tanpa sungkan. Bahkan, ada loh yang sampai berhenti jalan cuma buat merhatiin si bule dari kepala sampai kaki. Masih nggak cukup? Ada juga yang secara frontal menunjuk-nunjuk para bule. Waduh!

Segerombolan penjaga toko, misalnya, terang-terangan saling senggol sambil kasak-kusuk dan tertawa “takjub” saat mereka lewat! “Nggak biasa lihat bule ke mal, Mbak. Makanya takjub dan senang,” ujar salah seorang di antara mereka saat ditanya tim Zetizen. Reaksi semacam itu in fact sering bikin orang asing merasa nggak nyaman loh. “Tadi bahkan ada cowok yang teriak ’wow’ tepat di sebelah wajahku. Aku jadi berpikir sebenarnya apa masalahnya,” ujar Gwen, salah seorang bule yang diajak tim Zetizen ber-social experiment.

Auto Artist, Diajak Foto sampai Di-Insta Story!

Makin lama tim Zetizen dan para bule berjalan keliling mal, makin banyak juga nih reaksi-reaksi culture shock yang kami temukan. Salah satunya adalah kebiasaan orang Indonesia buat minta foto bareng bule. Saat para bule berjalan di area food court, misalnya. Dua remaja cewek nggak berhenti menatap mereka dengan takjub. Mereka tampak pengin menyapa, tapi ragu-ragu. Saat tim Zetizen menghampiri dan bertanya kenapa mereka melihat terus, ketahuan deh bahwa ternyata mereka pengin foto bareng.

“Dari awal lihat, aku pengin foto bareng. Abis mereka tinggi banget dan lucu kayak Barbie,” ujar Hariyanti, salah seorang cewek tersebut. Saat akhirnya sukses foto bareng, tangannya bahkan sampai gemetaran loh saking nervous-nya. Udah kayak ketemu artis deh! Dia bahkan bertanya akun Instagram si bule karena pengin upload dan tag mereka buat pamer kepada teman-temannya. Tapi, ingat, kebiasaan itu juga mending dikurang-kurangi deh, guys. Sebab, hal tersebut bisa melanggar privasi mereka. Selain itu, sebagian bule merasa bingung.

“Tolong bilang kepada mereka jangan upload di media sosial ya. Dari dulu aku sering diajak foto bareng. Tapi, bagiku, itu tetap awkward dan aneh. Sebab, aku bukan siapa-siapa. Whats the point?” tutur Kuba, bule asal Polandia yang diajak tim Zetizen. Psst, ada juga loh beberapa pengunjung mal yang meng-Insta Story mereka secara diam-diam, bahkan ber-selfie dengan background para bule yang lewat. This is of course not good!

Dispesialkan’, tapi Juga Dibedakan’

Pernah dong jalan-jalan ke mal dan lihat ada penjual slime? Biasanya, para penjual melarang orang buat menyentuhnya, apalagi memainkan slime itu. Betul, nggak? Psst, tapi, kadang perlakuan yang berbeda justru diberikan kepada orang asing loh. Saat ketiga bule partner Zetizen berhenti untuk memainkan slime yang dipajang, si penjual justru diam aja dan malah tertawa senang. “Really, kalau orang lokal biasanya nggak boleh memainkan ini? Aku nggak paham kenapa kalau kami boleh,” ujar Nadia, bule asal Prancis.

Meski kadang “dispesialkan”, nggak jarang para bule juga dapat perlakuan diskriminatif loh dalam hal jual beli. Iya, sebab, entah gimana masih ada stereotipe bahwa bule selalu punya banyak uang. Beberapa penjual kadang sengaja menaikkan harga. “Waktu liburan, aku merasa ada perbedaan harga yang diberikan kepadaku sama yang diberikan kepada warga lokal. Aku merasa harga barang yang dijual kepadaku lebih mahal,” imbuh Nadia.