PURWOREJO – Wilayah rawan bencana longsor dan tanah gerak di Desa Jelok, Kecamatan Kaligesing, memiliki tiga alat early warning system (EWS). Ketiga alat ini memiliki fungsi yang berbeda-beda, yakni untuk membaca temperatur hujan, tanah longsor, dan tanah bergerak.

Di antara ketiga alat yang ada, belakangan ini EWS tanah bergerak paling sering berbunyi. Bahkan pekan lalu setidaknya dalam sehari berbunyi hingga enam kali. Seringnya meraung ini menjadikan warga mulai terbiasa dan mengabaikan EWS.

“Alat EWS tanah bergerak, pekan lalu sering berbunyi. Sebenarnya bisa dipastikan alat itu akan berbunyi yakni 12 jam setelah terjadi hujan deras,” kata Ketua Jelok Siaga Bencana Imam Prayodi Minggu (14/1).

Kondisi ini diakuinya cukup riskan. Di satu sisi alat itu merupakan alat yang akan otomatis berbunyi bila ada gerakan tanah dengan volume tertentu. Dikatakan, kerapnya alat berbunyi karena memang ada gerakan sungguhan dan tidak sekadar berbunyi.

“Saat ada tanah gerak, EWS akan langsung berbunyi. Karena alat itu akan secara otomatis jika ada gerakan dengan volume tertentu. Tapi memang agak bermasalah karena masyarakat mulai mengabaikannya. Karena mereka melihat dari bunyi EWS tidak langsung disertai tanah longsor,” jelasnya.

Pihaknya telah berusaha mengajak masyarakat dan mensosialisasikan adanya bunyi sirine karena memang ada gerakan sungguhan. Diharapkan warga segera pindah ke pengungsian sementara.

“Dibandingkan dua alat lain, EWS tanah bergerak berbunyi akan disertai dengan ajakan mengungsi. Sementara kalau hujan hanya menyampaikan curah hujan dan mengajak masyarakat waspada,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Jelok Feri Sulistyo meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo memberikan sosialisasi lanjutan kepada masyarakat. dengan arahan yang baik dan benar dari pihak yang berkompeten. Pihaknya meyakini masyarakat akan mengikuti.

“Kami meminta bantuan BPBD untuk menyampaikan hal ini, setidaknya ada kajian dan tinjauan untuk meyakinkan masyarakat jika kondisi tanah bergerak di Jelok sudah lumayan berat,” kata Feri.

Diungkapkan, adanya retakan di Dusun Sibatur saat ini menjadi titik resapan air, di mana ada saluran air yang langsung masuk ke dalam rekahan dan tidak mengalir ke tempat yang semestinya. (udi/laz/mg1)