POLRES Kulonprogo dan PT Angkasa Pura (AP) I membantah dugaan adanya kekerasan saat land clearing lahan calon bandara. Kedua pihak tidak melakukan tekanan kepada warga.

Sikap tersebut menyusul pernyataan Kepala Ombudsman Republik Indonesia (ORI) DIJ Budhi Masturi. Dia mengatakan telah melakukan investigasi.

“Faktanya, telah terjadi kekerasan. Terkonfirmasi di lapangan. Kami juga meminta keterangan sejumlah pihak, termasuk Angkasa Pura, Pemkab Kulonprogo dan PLN,” kata Budhi.

Sekretaris Perusahaan AP I Israwadi menyatakan pihaknya dibantu pengamanan oleh Polisi, TNI, Satpol PP dalam proses land clearing Senin-Selasa (8-9/1). Namun mereka hanya menjaga agar warga tidak memasuki area pembersihan lahan. Tim bahkan masih menolelir warga yang ingin memanen tanamannya sebelum lahan diratakan.

“Memang sempat terjadi aksi saling dorong antara warga dengan tim pengamanan. Ada warga yang jatuh dan terluka. Komunikasi persuasif juga dilakukan. Langkah itu sudah dilakukan sejak awal,” ucap Israwadi.

Wakapolres Kulonprogo Kompol Dedi Suryadharma mempersilakan pihak manapun menyampaikan dugaan asal bisa membuktikan. Saat pengamanan land clearing anggotanya ada yang terluka. Ada bukti foto dan video.

“Luka yang dialami warga dan aktivis penolak bandara bisa saja disebabkan aksi dorong. Mereka terjatuh dan terkena tanaman, akar atau kayu,” katanya.

Ada juga mahasiswa yang merangkul pohon dan enggan melepaskannya saat pohon akan dirobohkan. “Yang bisa menjawab semuanya adalah bukti-bukti,” kata Dedi. (tom/iwa/mg1)