JOGJA – Tak bisa dipungkiri letak geografis menjadikan wilayah DIJ masuk pada kawasan rawan terjadi bencana. Sejumlah bencana cukup besar seperti Gempa Bumi Bantul di 2006 dan Erupsi Merapi 2010 berdampak pada besarnya korban. Bahkan 2017 lalu, kejadian angin kencang, longsor dan banjir menelan korban ratusan jiwa.

Mengingatkan potensi itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ Biwara Yuswantana mendorong masyarakat untuk peka dan selalu mengantisipasi terhadap kejadian yang datang sewaktu-waktu.

Biwara yang baru saja dilantik sebagai kepala pelaksana BPBD Jumat di Bangsal Kepatihan (12/1) meminta masyarakat sedini mungkin meningkatkan antisipasi kebencanaan di wilayah lingkungan masing-masing. Paradigma masyarakat, harus bisa berubah dalam persiapan menghadapi bencana. “Mari kita sibuk-sibuk ketika tidak ada bencana,” kata Biwara Sabtu (13/1).

Menurutnya, akhir-akhir ini, kejadian angin kencang kerap kali melanda sejumlah wilayah di DIJ. Termasuk yang paling menonjol, peristiwa siklon cempaka yang menimbulkan banjir, longsor dan angin kencang yang menyebabkan puluhan korban meninggal pada akhir 2017 lalu.

Yang paling mudah, kata Biwara, dengan menebang pepohonan yang berpotensi menimbulkan bencana. Menurut mantan pejabat di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIJ ini, kejadian pohon tumbang turut andil dalam menimbulkan korban jiwa dan kerugian materil.

Untuk itu, bagi masyarakat yang tidak memiliki peralatan untuk melakukan penebangan pohon, bisa meminta bantuan BPBD di masing-masing kabupaten atau ke Pusdalops BPBD DIJ. “Mari kita untuk peka, kalau memang pohon harus ditebang, bisa lapor,” katanya.

BPBD DIJ, juga akan melakukan pemetaan terhadap kerawanan disetiap wilayah. Nantinya, akan dilakukan kajian untuk kemudian dilakukan sosialisasi guna antisipasi kebencanaan dimasing-masing wilayah. “Memang perlu ada tim pengakaji yang kemdudian direkomendasikan ke masyarakat,” katanya.
Data di Pusdalops DIJ selama 2017 lalu terdapat 1970 laporan kebencanaan. Dari jumlah itu, 1.065 di antaranya masuk dalam kejadian bencana. Manajer Pusdalops DIJ Danang Samsu memaparkan dari kejadian bencana tahun lalu, 122 orang dinyatakan meninggal dunia dan 69 korban luka.”Estimasi kerusakan yang ditimbulkan hasil hitungan cepat mencapai Rp 520 miliar lebih,” kata Danang kepada Radar Jogja.
Kejadian cukup menonjol terjadi pada November 2017 lalu. Bulan itu, Pusdalops DIJ menerima laporan 714 kejadian longsor, 13 kejadian angin kencang, tiga kejadian banjir, dan empat kecelakaan laut.

Dikatakan selama tahun kemarin, 1.549 pohon tumbang akibat angin kencang dan curah hujan yang cukup tinggi. Bahkan kerusakan lahan pertanian gang ditimbulkan mencapai 80 ribu hektare. Sementara jalan provinsi, kabupaten, dan desa yang mengalami kerusakan mencapai 23 kilometer. (bhn/din/mg1)