PURWOREJO – Buah unggulan Purworejo, manggis dan durian, masuk 10 besar populasi produksi buah terbanyak di Jawa Tengah. Manggis berada di peringkat kedua setelah Kabupaten Cilacap, sementara durian di peringkat ketujuh.

Hal ini diungkapkan Prof Subejo dari Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSEKP) Universitas Gadjah Mada Jogjakarta saat memberikan presentasi pengembangan buah unggulan dan produksi biofarma di Ruang Otonom Setda Purworejo, Jumat (12/1). Kegiatan yang dibuka Sekda Said Romadhon dan diselenggarakan Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan
Perikanan (DPPKP) Kabupaten Purworejo untuk mencari komoditas lokal unggulan di Purworejo.

“Dari gambaran yang ada, posisi kita (Purworejo) cukup strategis. Dari 35 kabupaten/kota di Jateng, durian ada di posisi ketujuh berdasarkan populasinya,” ujar Bejo.

Meski di posisi ketujuh, hal itu tidak menjadi permasalahan. Selama ini orang telah menyebut Purworejo sebagai salah satu penghasil durian dan bisa mengalahkan nama-nama kabupaten/kota lain di Jateng yang berada di posisi lebih tinggi.

Dia melihat walaupun kalah dari sisi posisi, kemenangan dari sisi popularitas harus semakin digenjot, sehingga orang luar akan lebih memilih Purworejo sebagai salah satu tujuan mencari durian. Setidaknya poin manajemen dalam pasca produksi durian telah dipegang dan tinggal pengembangan atau pengemasan durian yang harus dikejar.

“Purworejo memiliki 9 sentra durian dan kita tidak perlu membuat satu unggulan durian. Karena menurut hemat kami yang terpenting, dari keunggulan tiap sentra itu bisa dimunculkan, jadi tidak perlu seragam. Sehingga kita memiliki banyak varian durian unggulan yang bisa dijual,” tambah Bejo.

Langkah strategis yang perlu dikembangkan adalah mencari durian-durian unggul dari tiap sentra dan dikemas sesuai daerah kecamatan asal. Menurutnya, tidak terlalu sulit mengidentifikasi durian unggulan yang ada di wilayah sentra. Setidaknya melalui lomba durian yang diadakan DPPKP Purworejo setahun sekali akan muncul beragam durian unggul.

“Dalam setiap lomba kita tampilkan 50 saja durian unggul. Kita sudah memiliki banyak pilihan. Tinggal nanti pengembangan lanjutannya bagaimana,” jelas Bejo.

Meski berhasil secara populasi, ia melihat pengembangan durian Purworejo merupakan hasil warisan orang tua atau yang lebih tua lagi. Selain itu pola pembiakan yang tidak teratur menjadikan banyak turunan durian yang berbeda jauh dengan aslinya.

“Tanaman durian di lapangan, dari hasil kunjungan kami ke tiga tempat yakni Kaligesing, Bagelen dan Bener mendapati kalau pola penanamandurian di Purworejo itu belum mendapatkan sentuhan sama sekali.

Sebagai contoh, banyak durian yang muncul tidak dari proses pembibitan, namun sekadar durian jatuh pecah dan bijinya tumbuh. “Jadi memang tidak teratur,” ungkapnya.

Menyikapi kondisi ini, pihaknya memiliki kiat dengan melakukan sistem sambung durian, di mana masih memanfaatkan pohon yang sudah ada dan disambung dengan durian-durian unggulan dari Purworejo juga.

“Kita juga bisa gunakan sistem sambung samping di mana batang lama disambung dengan yang unggul. Setelah jadi, percabangan yang lama bisa dipotong. Ini menjadi solusi agar petani tetap bisa menikmati hasil durian saat dilakukan peremajaan. Jadi tidak ada gejolak di petani durian,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala DPPKP Purworejo Bambang Jati Asmara mengatakan, pihaknya memang melakukan kerja sama dengan PSEKP UGM tentang beberapa hasil pertanian di Purworejo. Hal itu dimaksudkan untuk mencari daya dukung dalam pengembangan hasil bumi, baik dari buah maupun tanaman lain Purworejo.

Selain buah unggulan, pihaknya juga memiliki biofarmaka atau tanaman obat dengan tingkat populasi cukup baik di Purworejo. Dua di antaranya jahe dan temulawak di mana jahe ada di posisi dua dan temulawak di posisi ketiga se-Jateng.

“Kita ingin mencoba lebih mengoptimalkan, tidak sekadar populasi tapi juga produksi dan hasil akhirnya,” ujar Bambang Jati. (udi/laz/mg1)