GUNUNGKIDUL- Dalam beberapa tahun terakhir sejumlah wilayah di Gunungkidul menjadi langganan banjir. Wilayah-wilayah rawan itu terutama yang berada di sepanjang bantaran sungai.

Karena itu, ketika hujan deras dengan intensitas lebih dari dua jam mengguyur, warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai diminta waspada.

Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Gunungkidul Sutaryono mengatakan, sedikitnya ada delapan kecamatan rawan banjir. Masing-masing wilayah Kecamatan Semanu, Ponjong, Wonosari, Patuk, Nglipar, Ngawen, Karangmojo, dan Playen. “Ketika hujan deras dengan durasi panjang, terjadi genangan air di permukiman sepanjang bantaran sungai di wilayah tersebut,” kata Sutaryono Jumat (12/1).

Pada Kamis malam (11/1), hujan deras mengguyur sejumlah wilayah di Gunungkidul. Di Kecamatan Semanu, genangan air sempat memutus jalan penghubung antardesa. “Tepatnya di jalan penghubung di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu. Pagi harinya ketinggian air lebih dari satu meter dengan panjang genangan lebih dari 130 meter,” ujarnya.

Menurutnya, luapan air berasal dari Telaga Sureng yang membludak setelah didera hujan semalaman. Luapan air selain memutus akses jalan juga merendam lahan pertanian milik penduduk setempat. “Lokasinya tepatnya di Padukuhan Jasem,” terangnya.

Salah seorang warga Padukuhan Jasem, Warjito mengatakan, hujan turun sejak sore hari hingga larut malam. Penduduk mulai keluar rumah untuk memantau situasi dan mendapati air di Telaga Sureng dan Telaga Jonge meluap hingga mengalir ke jalan-jalan. “Kami bersyukur air terus surut ketika hujan terhenti,” kata Warjito.

Namun begitu, untuk akses jalan di Jasem masih lumpuh. Akibatnya aktifitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) SD Negeri Jasem sempat terganggu. Puluhan siswa dialihkan belajar di Masjid Al Islam, Desa Pacarejo.

Kades Pacarejo, Kecamatan Semanu, Suhadi mengatakan, genangan terjadi di Padukuhan Jasem Lor. Sempat mengganggu aktivitas masyarakat namun sekarang sudah surut dan kembali normal. “Pasca-kejadian, kami telah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk membersihkan luweng sebagai tempat pembuangan air. Ada 6 luweng ke depan akan dilakukan normalisasi,” ucapnya.

Diakui, selain menggenangi lahan tegalan dan jalan, genangan air juga menyebabkan lokasi wisata Kali Suci lumpuh. Air keruh meluap sampai sehingga tidak memungkinkan untuk digunakan beraktivitas.

Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul Hary Sukmono menjelaskan, untuk sementara waktu wisata Cave Tubing Kalisuci ditutup. Penghentian kegiatan pariwisata dilokasi bukan kali pertama. “Pernah ditutup karena terdampak banjir 28 November. Sempat dibuka namun sekarang ditutup kembali,” kata Hary Sukmono. (gun/din/mg1)