BANTUL – Warga RT 01 Dusun Siluk, Selopamioro, Imogiri diselimuti kekhawatiran. Ini menyusul hujan deras yang mengguyur sebagian wilayah Kabupaten Bantul Kamis (11/1). Sebab, hujan mulai Kamis sore hingga malam tersebut memicu bantaran Sungai Oya terus tergerus. “Semakin dekat dengan rumah warga,” jelas Ruji, seorang warga RT 01 Dusun Siluk Jumat (12/1).

Tergerusnya talud di bantaran sungai ini mulai terlihat pascabencana banjir akhir November lalu. Saking parahnya, jarak antara tepi sungai dan rumah seorang warga saat ini hanya tinggal sekitar lima meter.

Ruji tak menampik ada bronjong yang masih terpasang. Kendati begitu, kondisi kontruksi bronjong kian mengkhawatirkan akibat termakan usia. “Lama-kelamaan bisa ambrol juga,” ucapnya.

Sumardi, warga Dusun Siluk lainnya menyebut ada 12 rumah di Selopamioro yang terdampak abrasi. Namun, saat ini tinggal tujuh rumah. Lainnya hanyut diterjang banjir akhir November lalu. “Dulu jaraknya (bantaran sungai dan permukiman) sekitar 25 meter. Sekarang terus berkurang,” keluhnya.

Guna mengantisipasi abrasi semakin parah, Sumardi menuturkan, warga pernah berinisiasi memasang hingga 5.000 karung pasir di bawah talud. Sayangnya, ribuan karung pasir sumbangan berbagai pihak ini ternyata belum mencukupi. “Setiap minggu warga kerja bakti memasang karung pasir,” ujar kepala keluarga yang dapur rumahnya hanyut pada akhir November lalu ini.

Atas dasar itu, Sumardi berharap pemerintah turun tangan melakukan perbaikan. Salah satu caranya dengan memperbaiki atau membangun talud dan bronjong permanen.

Pelaksana Harian Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto berpendapat tingginya curah hujan Kamis malam tidak begitu membahayakan. Kendati begitu, Dwi mengingatkan, sebagian rumah di bantaran sungai perlu direlokasi. “Total ada 15 rumah se-Bantul yang direlokasi tahun ini. Beberapa di Selopamioro,” tambahnya. (zam/din/mg1)