Untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia, Institut Sains & Teknologi (IST) Akprind Jogjakarta terus mendorong dosen dan tenaga kependidikannya meningkatkan kualifikasi jenjang pendidikan dan jabatan akademik. Saat ini ada sembilan dosen yang sedang menempuh studi S3, empat dosen studi S2, dan empat tenaga kependidikan menempuh studi S2.

IST Akprind sendiri merupakan perguruan tinggi yang menyelenggarakan progam pendidikan akademik dan profesional, khususnya bidang bidang sains dan teknologi. Saat ini, salah satu PTS di Jogja ini menyelenggarakan 13 program studi, dengan jumlah dosen tetap sebanyak 121 orang.

Di penghujung tahun 2017 lalu IST Akprind berhasil menambah doktor baru. Edhy Sutanta, dosen Prodi Teknik Informatika, Fakultas Teknik Industri, berhasil menyelesaikan program doktor bidang Ilmu Komputer di Universitas Gadjah Mada (UGM) setelah melalui ujian tertutup 7 Desember 2017.

Edhy Sutanta sukses mempertahankan disertasinya yang berjudul “Model Schema Matching Menggunakan Gabungan Constraint-Based Method dan Instance-Based Method Pada Basis Data Relasional”. Pada ujian itu, promovendus diuji oleh tim yang terdiri atas sembilan orang, yakni Dr Ing MHD Reza MI Pulungan MSc (ketua tim penguji), Drs Retantyo Wardoyo MSc, Ph.D (promotor), Dr Techn Khabib Mustofa SSi, M.Kom. (co-promotor), Drs Edi Winarko MSc, Ph.D (co-promotor), Dr Ir Wahyuni Reksoatmodjo MSc, Prof Dr Ema Utami, S.Si, MKom, Dr Drs Suprapto MI.Kom, Dr Nur Rokhman SSi, M.Kom, dan Dr Sigit Priyanta SSi, M.Kom.

Terkait penelitiannya, Edhy Sutanta mengatakan schema matching merupakan solusi penting pada tahap awal integrasi informasi dari sumber basis data yang heterogen. Penelitian ini didasari adanya tuntutan kualitas informasi untuk layanan publik yang mengalami pergeseran menuju bentuk baru dengan ciri pelayanan yang terpadu, terintegrasi, dan tersinergi.

Perubahan kebutuhan itu memerlukan adanya proses integrasi informasi dari banyak sistem informasi. Hal ini terjadi karena umumnya di dalam sebuah instansi terdapat banyak sistem informasi yang saling terpisah. Proses integrasi ini umumnya menghadapi kendala yang diakibatkan oleh permasalahan heterogenitas.

Heterogenitas itu dapat dikelompokkan ke dalam empat macam, yakni heterogenitas sistem (system heterogeneity), heterogenitas sintaks (syntactic heterogeneity), heterogenitas skematik (schematic heterogeneity), dan heterogenitas semantik (semanticheterogeneity). Permasalahan utama dalam schema matching adalah kesulitan dalam menentukan pemetaan kesamaan pasangan atribut secara manual, sehingga diperlukan model semi otomatis dan lebih efektif.

Solusi permasalahan ini dapat dilakukan pada tiga level, yaitu basis data (back end), middleware, dan aplikasi. Model integrasi pada level basis data dikembangkan berdasarkan schema basis data yang bertujuan untuk menyusun pemetaan dan pencocokan antar schema yang dikenal sebagai schema matching.

Proses schema matching dilakukan melalui empat tahapan, yakni pra-integrasi, perbandingan antar schema, penyesuaian schema, serta restrukturisasi hasil penggabungan schema. Model schema matching telah berkembang dari metode manual menuju semi otomatis dengan bantuan komputer. Tugas schema matching adalah untuk mendeteksi kesamaan dan hubungan antar elemen dari dua buah schema, sedangkan integrasi schema bertujuan menyusun struktur umum termasuk konsep dari schema yang diintegrasikan.

Dalam disertasinyanya, Edhy berhasil mengembangkan model dan prototipe hybridschema matching baru dengan cara menggabungkan constraint-based method dan instance-based method. Model yang dikembangkan juga memiliki fitur-fitur yang dapat meningkatkan efektivitas hasil dan efisiensi dalam prosesschema matching.

“Keberhasilan saya ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, di antaranya, Kemenristek Dikti, Yayasan Pembina Potensi Pembangunan Jogjakarta, Keluarga Besar IST Akprind, promotor dan co-promotor, serta keluarga. “Saya harus berterimakasih kepada mereka. Tanpa dukungan semua, saya tidak akan dapat sampai pada tahapan ini,” ujar Edhy Sutanta. (*/laz/mg1)