PURWOREJO-Peredaran minuman keras berbagai jenis terus diwaspadai Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan Damkar). Disinyalir masih banyak tempat yang menjadi titik peredaran.

“Tampaknya cukup besar dan perlu diwaspadai peredaran miras di Purworejo. Kami sudah memegang data beberapa titik yang disinyalir menjadi wilayah terbesar peredaran dan suatu saat bisa meledak,” Kepala Satpol PP dan Damkar Budi Wibowo, Rabu (10/1).

Menurut Budi, hasil operasi yang digelar selama Liburan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 cukup tinggi. Sebanyak 530 botol minuman keras berbagai jenis disita. “Jumlah itu hasil dari operasi yang dilakukan di 11 titik,” imbuh Budi.

Menurutnya, keberhasilan pengungkapan penjualan miras ini atas kerja sama dari pihak masyarakat maupunn penelusuran Satpol PP dan Damkar. Petugas secara langsung turun ke lapangan dan berhasil menyita barang bukti. “Kami memang melakukan operasi tanpa melibatkan pihak lain. Tapi tetap ada koordinasi dengan pihak kepolisian,” jelas Budi.

Ditambahkannya, operasi pekat itu didasarkan pemberlakukan Perda Miras 0 Persen di Purworejo. Lebih jauh diungkapkan, semakin tingginya tingkat peredaran menjadikan pihaknya harus sering turun ke lapangan. Hal ini perlu dilakukan agar pemanfaatan miras bisa diminimalisasi. “Tanpa bantuan masyarakat kami tidak akan bisa. Untuk itu kami harapkan adanya laporan dari masyarakat sehingga operasi yang dilakukan bisa tepat sasaran,” tambahnya.

Kabid Penegakan Perda Satpol PP dan Damkar Mujono mengungkapkan pelaku penjual miras sebagian telah dilakukan persidaangan untuk kasus tindak pidana ringan. Para pelaku biasanya mendapatkan hukuman berupa denda yang besarnya bervariasi. “Memang untuk kasus-kasus miras, Satpol PP langsung kenakan pasal tipiring bagi pelaku. Ini kami lakukan karena dampaknya langsung ke orang lain,” kata Mujono.

Dari operasi cipta kondisi yang dilakukan dalam akhir tahun itu setidaknya Satpol PP dan Damkar bisa menyetorkan denda tipiring ke kas negara senilai Rp 11.550.000.(udi/din/mg1)