SLEMAN – Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Djoko Budiyono mengungkapkan ada potensi hujan intensitas tinggi. Terlebih adanya penguatan monsoon Asia disertai munculnya beberapa tekanan rendah di selatan Pulau Jawa. Karakteristik ini membawa uap air dan bersifat basah.

Berdasarkan analisa, fenomena ini menyebabkan belokan angin. Dampaknya banyak pembentukan awan awan hujan pada Januari ini. Prediksi hujan sedang hingga lebat besar kemungkinan terjadi di beberapa wilayah Jogjakarta.

Intensitas antara 30mm/hari hingga 70 mm/hari. Akan muncul di sebagian besar Kulonprogo, Kota Jogja, dan Sleman. Sedangkan sebagian besar Bantul, dan Gunungkidul hujan diprediksi dalam kategori ringan hingga sedang antara 20mm/hari hingga 40 mm/hari.

“Potensi hujan umumnya terjadi pada sore hingga malam hari,” jelasnya.

Hasil pantauan curah hujan di BMKG tercatat curah hujan dalam kurun waktu dasarian I Januari mencapai 195 mm atau kategori tinggi. Sementara periode Januari hingga Februari diprediksi merupakan puncak musim hujan.

“Hujan bulanan berkisar hingga mencapai diatas 500 mm/bulan. Tinggi gelombang di selatan Pulau Jawa khususnya Jogjakarta mencapai 1,25 hingga 2,5 meter,” ujarnya.

Untuk menghadapi puncak musim hujan, BMKG memberikan beberapa imbauan. Pertama wajib waspada potensi genangan, banjir maupun longsor. Peringatan ini khususnya bagi yang tinggal di wilayah berpotensi hujan lebat terutama rawan banjir dan longsor.

Kawasan-kawasan ini berada pada daerah dataran rendah, daerah cekungan, bantaran sungai, perbukitan, lereng-lereng, dan pegunungan. Selain itu juga waspada terhadap potensi hujan disertai angin kencang.

“Biasanya ini menyerang pohon atau reklame baliho hingga tumbang. Jangan bernaung dibawahnya. Juga tidak berlindung di bawah pohon jika hujan disertai petir,” pesannya.

Khusus wilayah pesisir pantai kawasan Jogjakarta, dia juga memberikan imbauan. Dalam beberapa waktu ke depan diprediksi ketinggian gelombang laut lebih dari dua meter. Kondisi ini tentunya sangat berbahaya bagi nelayan tradisional.

Beberapa waktu lalu nelayan kawasan Bantul juga sempat gagal melaut. Penyebabnya ombak yang terlalu tinggi disertai dengan angin kencang. Prediksi waktu tidak terduga, terlebih perubahan cuaca harian masih mungkin terjadi.

“Sebaiknya menunda kegiatan penangkapan ikan secara tradisional hingga gelombang tinggi mereda,” ujarnya. (dwi/ila/mg1)