SLEMAN – Empat mahasiswa yang ditangkap aparat Polres Kulonprogo karena dituding sebagai provokator warga penolak pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA), Selasa (9/1) siang, memang langsung dilepaskan sekitar pukul 17.30 di hari yang sama. Namun hal itu tak lantas persoalan selesai. Bahkan berbuntut. Rabu (10/1) bersama warga penolak bandara baru di Kulonprogo mereka mendatangi Mapolda DIJ. Mereka melaporkan tindakan anarkistis yang diduga dilakukan aparat yang bertugas mengamankan proses land clearing lahan bakal bandara.

Adapun keempat mahasiswa yang sempat diperiksa polisi adalah Miftakhul Rozak,M. Haedar Hafiz Penggala, Rizky Maulana, dan Zaki Abdurahman.

Di Mapolda DIJ, Zaki mengaku terkena pukulan aparat di mata sebelah kiri. “Aparat seharusnya menjadi penengah, tapi kok malah bertindak represif. Makanya kami menuntut keadilan di Polda DIJ,” ungkapnya usai melapor kemarin.

Zaki mengatakan, bukan hanya dirinya yang mendapat bogem mentah aparat. Tapi juga rekan-rekannya sesama aktivis mahasiswa dan seorang warga pemilik lahan bakal bandara. Pernyataan Zaki dibenarkan Suyadi,38, warga Glagah, Temon, Kulonprogo. Suyadi mengeluhkan sakit di bagian bibir bawahnya karena pukulan aparat. Dia juga mendapat kekerasan fisik di bagian lain saat mempertahankan lahan miliknya yang akan digusur petugas land clearing dari PT Angkasa Pura I, selaku pemrakarsa NYIA.

“Pelakunya aparat berseragam, tapi belum tahu siapa orangnya. Kena pas bibir sampai berdarah. Ini terjadi pada Senin (8/1),” bebernya.

Teguh Purnomo, penasihat hukum para pelapor, turut menuding tindakan kesewenang-wenangan yang ditunjukkan aparat, khususnya anggota kepolisian. Dia menilai kehadiran aparat justru menimbulkan situasi tidak kondusif. Alasannya, selain melakukan tindakan represif, aparat juga melontarkan ancaman lewat ucapan. “Aparat sepertinya berat sebelah. Bukan menjadi penengah antara warga dan pengembang NYIA,” katanya.

Teguh juga melaporkan anggota Polres Kulonprogo yang mengacungkan jari tengah kepada para aktivis dan warga penolak bandara.

Teguh mengklaim memiliki bukti tindakan represif aparat dalam bentuk foto dan rekaman video. Menurutnya, aparat yang ada di lokasi kejadian terdiri atas polisi, TNI AU, dan Satpol PP Kulonprogo. “Siapa pun yang melakukan pemukulan harus diproses hukum juga. Jika TNI, harus dilimpahkan ke polisi militer,” pintanya seraya meninggalkan ruang direktorat reserse kriminal umum (ditreskrimum).

Para aktivis memang melapor di ditreskrimum. Awalnya mereka mendatangi ruang sentra pelayanan kepolisian terpadu (SPKT) yang ada di lobi Mapolda DIJ. Namun, guna mengorek keterangan lebih detail, kronologis, berikut bukti-bukti kekerasan aparat, mereka lantas diarahkan ke ruang ditreskrimum.

Kapolres Kulonprogo AKBP Irfan Rifai yang turut hadir di Mapolda DIJ membantah semua informasi yang disampaikan pelapor. Irfan berdalih, tindakan yang dilakukan anak buahnya sudah memenuhi standar prosedur operasional untuk pengamanan. Kendati demikian, perwira menengah Polri dengan dua melati di pundak itu tak membantah terjadinya saling dorong antara warga penolak NYIA dan aparat. Tapi ketika itu tidak ada pemukulan oleh anggotanya kepada warga maupun aktivis. Yang terjadi justru sebaliknya. Menurut Irfan, ada polisi yang tak mengenakan seragam dipukul oleh aktivis mahasiswa. Polisi itu pun mengejar orang yang memukulnya. Saat berlari si pemukul polisi terjatuh di semak-semak. Aktivis yang jatuh itulah yang kemudian dilaporkan telah dipukul aparat.

“Kami sudah bekerja sesuai dengan tupoksi. Karena di sana (lokasi land clearing, Red) juga ada petugas pengamanan dari instansi lain,” katanya.

Ikhwal perbuatan anak buahnya yang mengacungkan jari tengah kepada warga penolak bandara, Irfan tak membantahnya. Bahkan, dia sudah memberi teguran keras kepada anggotanya, yang belakangan diketahui berinisial An dari Sat Sabhara berpangkat Bripda. Irfan mengakui tindakan anak buahnya sebagai perilaku tak terpuji. “Dia tidak kami libatkan lagi dalam pengamanan (land clearing lahan bandara, Red),” katanya.

Lebih lanjut Irfan mengungkapkan, tindakan tidak terpuji juga dilakukan para aktivis. Bahkan mereka dinilai telah memprovokasi aparat. Menurut Irfan, ada aktivis yang memeperagakan tindakan tak senonoh yang ditujukan kepada polwan yang turut melakukan pengamanan. “Saya selalu minta kepada anggota untuk tidak terpancing oleh provokasi mereka,” jelasnya.

Ke depan, Irfan berencana memanggil para rektor, kampus di mana para aktivis menimba ilmu saat ini. Tujuannya, agar para aktivis diberikan pembinaan, sehingga tidak melakukan kegiatan kontraproduktif. “Mereka kan intelektual, kalau mau menolak (bandara, Red) silakan ajak warga dengan cara baik-baik. Bukan dengan menghimpun massa seperti itu,” ucapnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda DIJ AKBP Yulianto mengatakan, setiap laporan yang masuk akan dipelajari lebih lanjut oleh penyidik untuk mencari kemungkinan adanya unsur-unsur pidana. (dwi/bhn/tom/yog/mg1)