BANTUL – Pendangkalan di Laguna Pengklik Pantai Samas ternyata tidak hanya terjadi kali ini saja. Kepala Desa Srigading Wahyu Widodo mengingat, kejadian serupa pernah terjadi pada 2016. “Juga karena ada tumpukan pasir,” jelas Wahyu saat dihubungi Rabu (10/1).

Saat itu, Wahyu bercerita, menuntaskan problem tersebut dengan penyedotan. Agar perahu jungkung yang membawa rombongan wisatawan menyusuri kawasan konservasi hutan Mangrove kembali beroperasi. Problemnya, sebagian pihak menganggap penyedotan pasir untuk kepentingan pribadi. “Dulu ada kesalahpahaman,” kenangnya.

Atas dasar itu, Wahyu berencana melakukan konsultasi terlebih dahulu kepada DPRD Bantul. Itu untuk mengantisipasi potensi kesalahpahaman kembali terulang. Walaupun merujuk ketentuan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa memperbolehkan pemerintah desa memanfaatkan sumber daya alam. Termasuk di antaranya melakukan penyedotan pasir. Dengan catatan pasir tersebut tidak dijual. “Undang-undangnya memperbolehkan,” tandasnya.

Bila hasil konsultasi memberikan lampu hijau, Wahyu berencana memanfaatkan pasir laguna untuk pembangunan akses jalan. Terutama, akses jalan menuju Pengklik Pantai Samas. Mengingat, kondisi jalan yang menghubungkan Jalur Jalan Lintas Selatan dengan Pengklik Pantai Samas memprihatinkan. Aspalnya banyak yang mengelupas. Ini diperparah dengan lebar jalan yang tak lebih dari tiga meter. “Warga sangat membutuhkannya,” katanya.

Sebagaimana diketahui, Laguna Pengklik Pantai Samas mengalami pendangkalan. Itu akibat bencana banjir yang menerjang wilayah Kabupaten Bantul akhir November lalu. Salah satu dampaknya, perahu jungkung yang biasa beroperasi mengangkut rombongan wisatawan menyusuri kawasan konservasi hutan Mangrove berhenti beroperasi. (zam/ila/mg1)